Tekanan dari pasar obligasi kembali menjalar ke Wall Street. Imbal hasil atau yield Treasury AS tenor 10 tahun melonjak menembus 5,1% pada Rabu (23/9), mencapai level tertinggi sejak 2007 setelah serangkaian data dan perkembangan pasar memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga AS masih dapat naik lagi.
Treasury yield 10 tahun naik lebih dari 13 basis poin ke sekitar 5,11%. Yield tenor dua tahun, yang lebih sensitif terhadap ekspektasi kebijakan The Fed, naik lebih dari 11 basis poin menjadi sekitar 4,89%, sementara yield 30 tahun menembus 5,39%.
Kenaikan tersebut terjadi setelah data aktivitas bisnis AS menunjukkan ekonomi masih tumbuh kuat, harga minyak kembali naik, dan pejabat The Fed memberikan sinyal bahwa inflasi masih membutuhkan kebijakan moneter yang ketat. Lelang Treasury tenor lima tahun yang lebih lemah dari perkiraan turut menambah tekanan pada pasar obligasi.
Dampaknya terlihat di pasar saham. Dow Jones Industrial Average turun 0,7%, S&P 500 melemah 0,8%, sementara Nasdaq Composite terkoreksi 1,1% setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi berturut-turut.
Data Ekonomi Kuat Dorong Yield ke Level 2007
Salah satu pemicu utama kenaikan yield datang dari data Purchasing Managers’ Index (PMI) S&P Global yang menunjukkan aktivitas bisnis AS pada September tumbuh jauh lebih kuat dari perkiraan.
PMI manufaktur naik menjadi 57 dari 53,9 pada bulan sebelumnya, melampaui ekspektasi ekonom sekitar 53,7. PMI jasa juga meningkat menjadi 58,7 dari 56,5, sedangkan PMI komposit mencapai 58,4, di atas perkiraan 55,3. Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas ekonomi masih berada dalam fase ekspansi.
Pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat pada dasarnya menjadi sinyal positif bagi aktivitas bisnis. Namun, bagi pasar obligasi, data tersebut juga menunjukkan bahwa permintaan dalam perekonomian masih cukup kuat ketika tekanan harga belum sepenuhnya mereda.
S&P Global mencatat biaya input pada September meningkat dengan laju tercepat dalam empat tahun, dengan bahan bakar dan transportasi menjadi salah satu pendorongnya. Kondisi tersebut memperkuat perhatian investor terhadap kemungkinan tekanan inflasi bertahan lebih lama.
Tekanan tambahan datang dari lelang Treasury tenor lima tahun. Lelang tersebut menghasilkan yield 5,033%, jauh di atas rata-rata enam lelang sebelumnya sebesar 4,186%. Porsi pembelian oleh indirect bidders, kategori yang mencakup bank sentral global, hanya mencapai 54%, dibandingkan rata-rata sekitar 65%.
Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang kuat, tekanan harga, dan permintaan obligasi yang lebih lemah membuat investor meminta yield yang lebih tinggi untuk memegang surat utang pemerintah AS.
Minyak Naik, Ekspektasi Kenaikan Bunga Kembali Menguat
Harga energi menjadi faktor lain yang menambah tekanan.
Minyak Brent naik 3,86% dan ditutup di US$103,08 per barel, sedangkan WTI menguat 1,81% ke US$92,16. Harga minyak yang tetap tinggi menjadi perhatian karena dapat meningkatkan biaya energi, transportasi, dan produksi, sehingga berpotensi mempertahankan tekanan inflasi.
Pada saat yang sama, Gubernur Federal Reserve Michael Barr mengatakan penyesuaian kebijakan lebih lanjut kemungkinan masih diperlukan untuk memastikan inflasi kembali menuju target 2%. Barr menilai inflasi masih berada di atas target dan belum menunjukkan tren yang cukup jelas menuju sasaran bank sentral.
Komentar tersebut datang hanya sepekan setelah The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4%, kenaikan pertama sejak 2023. Setelah data ekonomi terbaru dan komentar Barr, pasar meningkatkan ekspektasi terhadap kenaikan lanjutan pada pertemuan Oktober.
CME FedWatch menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga 25 basis poin pada Oktober meningkat menjadi sekitar 66%-71% pada Rabu, dari sekitar 55% sehari sebelumnya dan kurang dari 10% sebulan sebelumnya.
Artinya, fokus pasar kembali bergeser dari pertanyaan apakah siklus kenaikan bunga telah selesai menjadi seberapa jauh The Fed masih perlu mengetatkan kebijakan untuk mengendalikan inflasi.
Wall Street Tertekan, Pasar Pantau The Fed dan Minyak
Lonjakan yield langsung memberikan tekanan pada valuasi saham karena meningkatkan tingkat diskonto yang digunakan investor untuk menilai arus kas perusahaan sekaligus membuat obligasi pemerintah menawarkan imbal hasil yang lebih kompetitif.
Nasdaq menjadi indeks utama yang mengalami penurunan terbesar pada Rabu, melemah 1,1% setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi berturut-turut. S&P 500 turun 0,8%, sedangkan Dow Jones kehilangan 0,7%.
Kenaikan yield juga memiliki implikasi lebih luas terhadap biaya pembiayaan. Rata-rata suku bunga hipotek 30 tahun melonjak 9 basis poin menjadi 7,26% pada Rabu, sementara yield yang lebih tinggi secara umum meningkatkan biaya pinjaman bagi rumah tangga dan perusahaan.
Pergerakan berikutnya akan bergantung pada apakah data ekonomi AS tetap kuat dan tekanan inflasi bertahan, sekaligus bagaimana harga minyak berkembang di tengah ketidakpastian geopolitik. Pasar juga akan mencermati sinyal berikutnya dari pejabat The Fed untuk menilai apakah kenaikan suku bunga lanjutan benar-benar akan dilakukan.
Bagi pasar saham, arah Treasury yield menjadi salah satu indikator penting untuk dipantau. Jika yield bertahan di sekitar atau di atas 5%, biaya modal yang lebih tinggi dapat terus menjadi faktor yang diperhitungkan investor dalam menilai saham, terutama perusahaan dengan valuasi tinggi.
Yield Tembus 5%, Pantau Arah Wall Street
Treasury yield kembali melonjak dan ekspektasi suku bunga berubah cepat. Pantau saham AS melalui Nanovest serta ikuti perkembangan pasar global terbaru.
Investasi memiliki risiko. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi. Nanovest terdaftar dan diawasi oleh OJK.
Referensi +
- CNBC: 10-year Treasury yield rockets to 19-year high. Here’s what’s driving the spike
- Yahoo Finance: 10-year Treasury yield hits highest level since 2007 as market prices in another Fed rate hike
- Yahoo Finance: Stock market today: Dow, S&P 500, Nasdaq tumble as 10-year Treasury yield surges to 2007 high






