Harga minyak berbalik naik tajam pada perdagangan Kamis setelah dua risiko pasokan muncul hampir bersamaan: China menghentikan ekspor produk minyak, sementara Amerika Serikat dilaporkan menambah kekuatan militernya di Timur Tengah.
Kontrak Brent Desember ditutup di US$102,31 per barel, naik US$4,28 atau 4,37%, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat US$2,45 atau 2,71% menjadi US$92,87 per barel. Pergerakan tersebut terjadi setelah minyak sempat turun lebih dari 1% pada awal sesi.
Kenaikan kali ini terjadi ketika pasar menghadapi situasi yang tidak sepenuhnya sama antara crude dan produk olahan. Aliran minyak mentah dari kawasan Teluk mulai menunjukkan pemulihan, tetapi pasokan diesel dan sejumlah bahan bakar olahan masih ketat akibat gangguan kilang dan pembatasan ekspor dari beberapa negara.
China Hentikan Ekspor Bahan Bakar
Salah satu pemicu utama pembalikan harga minyak datang dari China. Kilang-kilang di negara tersebut menghentikan ekspor produk minyak ke pasar di luar Hong Kong dan Makau mulai Oktober hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Langkah tersebut mencakup produk penting seperti diesel, bensin, dan bahan bakar jet. PetroChina bahkan membatalkan sejumlah pengiriman yang sebelumnya direncanakan pada Oktober, sementara kilang swasta Zhejiang Petrochemical tidak menjadwalkan ekspor selama periode libur nasional China.
Keputusan tersebut menunjukkan prioritas Beijing untuk menjaga ketersediaan energi domestik. Persediaan bahan bakar China masih berada di bawah level sebelum konflik Timur Tengah, dengan stok gasoil dan diesel sekitar 20 juta barel di bawah target, sementara persediaan bensin sekitar 9 juta barel lebih rendah.
Dampaknya menjadi lebih penting karena pasar bahan bakar global sudah berada dalam kondisi ketat. Rusia memperpanjang larangan ekspor diesel bagi produsen hingga akhir Oktober, sementara Presiden Vladimir Putin menyatakan Rusia tidak akan kembali memasok diesel ke pasar global sampai sanksi terhadap Moskow dicabut.
Gangguan tersebut sebelumnya telah mendorong harga diesel di Eropa dan Amerika Serikat ke level tertinggi sepanjang masa. Persediaan diesel AS juga berada pada level terendah untuk periode ini sejak pencatatan dimulai pada 1982.
Dengan China ikut mengurangi pasokan ke pasar internasional, sumber tambahan untuk menggantikan bahan bakar dari Rusia dan Timur Tengah menjadi semakin terbatas.
AS Tambah Kekuatan Militer di Timur Tengah
Risiko pasokan juga datang dari meningkatnya kembali ketegangan AS-Iran.
The Wall Street Journal melaporkan bahwa AS akan mengirim kelompok tempur kapal induk ketiga serta hingga 10.000 personel tambahan ke Timur Tengah. USS Theodore Roosevelt disebut menuju kawasan tersebut, sementara USS George H.W. Bush dan USS George Washington telah berada di wilayah Timur Tengah.
Pengerahan tersebut meningkatkan perhatian pasar terhadap kemungkinan eskalasi konflik dengan Iran. Presiden Donald Trump pada Kamis mengatakan masih mempertimbangkan opsi terhadap Iran, sementara sumber Reuters melaporkan bahwa Teheran juga sedang mempersiapkan respons yang lebih luas apabila AS kembali melancarkan serangan militer skala besar.
Risiko terhadap jalur pengiriman energi belum sepenuhnya mereda. Tiga tanker berbendera Liberia dilaporkan terkena proyektil tidak dikenal ketika melintasi Selat Hormuz pada Selasa. Kondisi tersebut menjaga kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan minyak utama dunia meski sebagian arus pengiriman telah kembali.
Namun, perkembangan militer tersebut belum berarti pasokan minyak Timur Tengah otomatis akan kembali turun. Data terbaru justru menunjukkan adanya pemulihan pada beberapa jalur ekspor.
Arab Saudi telah kembali mengoperasikan East-West Pipeline dan melanjutkan pemuatan tanker dari Yanbu setelah gangguan sebelumnya. Goldman Sachs juga memperkirakan ekspor minyak Teluk, termasuk pengiriman dengan transponder lokasi dimatikan, telah pulih menjadi sekitar 23,3 juta barel per hari dalam sepekan terakhir, sejalan dengan rata-rata 2025.
Pasar Diesel Jadi Kunci Berikutnya
Kombinasi tersebut membuat kondisi pasar energi saat ini cukup berbeda. Pasokan crude mulai menunjukkan pemulihan, tetapi pasar produk olahan belum mendapatkan kelonggaran yang sama.
China mengurangi ekspor, Rusia masih menahan diesel, dan gangguan kilang di Timur Tengah membatasi ketersediaan produk olahan. Situasi tersebut membuat diesel menjadi salah satu bagian paling ketat dalam rantai pasokan energi global.
Tekanan bahkan mulai mendorong pembahasan penggunaan cadangan darurat. Pemerintah AS meminta Jerman dan Prancis mengurangi persediaan diesel strategis untuk membantu menekan harga global. Washington mendorong pelepasan sekitar 120 juta barel selama enam bulan, sementara gugus tugas energi Uni Eropa dijadwalkan membahas kemungkinan penggunaan cadangan tersebut.
Kondisi pasokan yang berkepanjangan juga mendorong analis menaikkan proyeksi harga. Survei Reuters terbaru menunjukkan rata-rata perkiraan Brent 2026 naik menjadi US$89,05 per barel, dengan gangguan ekspor Teluk dan ketatnya pasokan menjadi faktor utama.
Namun, arah harga berikutnya tetap bergantung pada beberapa faktor yang bergerak berlawanan. Pemulihan ekspor Teluk dapat mengurangi tekanan pada crude, sementara durasi pembatasan ekspor China, pasokan diesel Rusia, keamanan Selat Hormuz, dan perkembangan hubungan AS-Iran akan menentukan seberapa lama premi risiko bertahan.
Dengan Brent kembali di atas US$100, perkembangan pasar energi dapat kembali memengaruhi ekspektasi inflasi dan sentimen pasar yang lebih luas. Investor dapat mencermati harga crude dan diesel, perkembangan pasokan global, serta saham sektor energi yang sensitif terhadap perubahan harga komoditas.
Brent Tembus US$102, Pasar Energi Memanas
Pembatasan ekspor China dan ketatnya pasokan bahan bakar kembali menggerakkan harga minyak. Pantau saham sektor energi AS dan peluang pasar lainnya melalui Nanovest.
Investasi memiliki risiko. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi. Nanovest terdaftar dan diawasi oleh OJK.
Referensi +
- Reuters: Oil jumps 4% on reports China halts fuel exports, US troops head to Middle East
- Reuters: Putin says Russia won't supply diesel to global markets until sanctions are lifted
- Reuters: Chinese refiners suspend October fuel exports to bolster stocks, sources say
- CNBC: Brent oil jumps more than 4% as U.S. reportedly sends third aircraft carrier to Middle East





