Meta Platforms (META) menunjukkan seberapa besar taruhan perusahaan teknologi terhadap kecerdasan buatan (AI). CEO Mark Zuckerberg mengungkap bahwa perusahaan sempat mempertimbangkan investasi hingga US$200 miliar untuk AI, bahkan sebelum model terbarunya terbukti mampu memenuhi ekspektasi.
Dalam podcast Cheeky Pint yang dirilis pada Senin, Zuckerberg menceritakan diskusinya dengan Chief AI Officer Meta, Alexandr Wang, mengenai besarnya investasi yang dipertimbangkan pada akhir 2025.
Zuckerberg mengaku saat itu Meta optimistis dengan perkembangan riset AI, tetapi belum melihat hasil akhir model yang sedang dikembangkan. Ia pun mempertanyakan kepada Wang apakah investasi sebesar US100 miliar hingga US200 miliar benar-benar akan berhasil.
Risiko Investasi AI yang Tak Kecil
Wang mengatakan bahwa perkembangan riset saat itu memang menjanjikan, tetapi keberhasilannya belum dapat dipastikan. Ia juga mengungkap bahwa CFO Meta, Susan Li, berulang kali mengingatkannya mengenai konsekuensi finansial jika proyek tersebut gagal.
Peringatan ini mencerminkan besarnya risiko yang harus ditanggung Meta dalam mengejar persaingan AI. Investasi infrastruktur, komputasi, dan pengembangan model membutuhkan biaya besar, sementara hasil komersialnya belum tentu sebanding dengan pengeluaran.
Meski demikian, Zuckerberg menilai risiko tersebut perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Menurutnya, agar investasi itu benar-benar gagal, bukan hanya model Meta yang harus gagal, tetapi perkembangan AI secara keseluruhan juga harus meleset dari ekspektasi. Ia menambahkan bahwa kapasitas komputasi yang dibangun masih dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan produk lainnya.
Belanja Modal Meta Terus Meningkat
Besarnya ambisi Meta tercermin dalam proyeksi belanja modal atau capital expenditure (capex) perusahaan.
Meta memperkirakan capex 2026, termasuk pembayaran pokok sewa pembiayaan, mencapai US130miliarhinggaUS145 miliar. Sementara itu, analis Cantor Fitzgerald memperkirakan belanja tersebut dapat menyentuh US$200 miliar pada 2027.
Besarnya pengeluaran ini menjadi perhatian investor. Pada April 2026, saham Meta sempat turun lebih dari 6% dalam perdagangan setelah jam bursa meskipun perusahaan membukukan hasil yang kuat, setelah menaikkan proyeksi belanja tahunannya.
Situasi ini memperlihatkan tantangan yang dihadapi perusahaan teknologi besar: mereka perlu berinvestasi agresif agar tidak tertinggal dalam persaingan AI, tetapi juga harus meyakinkan investor bahwa pengeluaran tersebut dapat menghasilkan pertumbuhan dan keuntungan dalam jangka panjang.
Apa Artinya bagi Investor?
Bagi investor, perkembangan Meta menunjukkan bahwa pertumbuhan AI tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknologi, tetapi juga dengan efektivitas penggunaan modal.
Belanja besar dapat menjadi peluang jika menghasilkan produk yang diminati, meningkatkan pendapatan, atau memperkuat posisi kompetitif perusahaan. Sebaliknya, jika hasilnya tidak sesuai harapan, besarnya biaya infrastruktur dapat menekan arus kas dan meningkatkan kekhawatiran terhadap valuasi saham.
Karena itu, investor perlu memantau bukan hanya perkembangan model AI Meta, tetapi juga realisasi belanja modal, pertumbuhan pendapatan, arus kas bebas, dan bukti bahwa investasi AI mulai memberikan hasil finansial.
Baca berita lainnya terkait aset Meta di halaman ini.
Ambisi AI Meta Makin Besar, Bagaimana Prospek Sahamnya?
Meta terus memperbesar investasi AI, sementara investor mencermati biaya dan potensi hasilnya. Pantau saham META dan perusahaan teknologi AS lainnya melalui Nanovest, serta ikuti perkembangan AI, earnings, dan pasar global di News & Artikel Tips Nanovest.
Investasi memiliki risiko. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi.
Referensi +
- Yahoo Finance: Meta was prepared to write an up to $200 billion AI check before knowing whether its model would work






