Robert Kiyosaki kembali membahas alasan dirinya memiliki emas, perak, dan Bitcoin (BTC). Kali ini, penulis Rich Dad Poor Dad tersebut menggunakan analogi asuransi kendaraan untuk menjelaskan persiapannya menghadapi ketidakpastian keuangan.
Dalam unggahan di X pada 3 Oktober 2026, Kiyosaki menyebut dirinya sebagai financial prepper. Ia menggambarkan kepemilikan aset di luar mata uang pemerintah sebagai langkah berjaga-jaga, sebagaimana seseorang membeli asuransi tanpa mengharapkan kecelakaan.
Pernyataan itu muncul ketika inflasi AS masih berada di atas target bank sentral. Namun, alasan memiliki aset dan kemampuan aset tersebut menjaga daya beli merupakan dua hal yang perlu dinilai secara terpisah.
Mengapa Kiyosaki Memilih Emas, Perak, dan Bitcoin?
Kiyosaki menceritakan percakapannya dengan seorang perempuan yang mempertanyakan apakah sikap berjaga-jaga mencerminkan pesimisme. Ia kemudian menanyakan apakah perempuan tersebut memiliki asuransi kendaraan, sebelum mengaitkannya dengan kepemilikan emas, perak, dan Bitcoin.
Menurut Kiyosaki, penambahan jumlah uang dan pajak dapat mengurangi kekayaan masyarakat. Karena itu, ia memilih aset yang tidak bisa diterbitkan pemerintah seperti mata uang. Dalam unggahan yang sama, ia juga menyebut kepemilikan sumur minyak sebagai sumber pemasukan.
Istilah “asuransi” dalam pernyataan tersebut merupakan analogi. Kepemilikan emas, perak, atau BTC tidak memberikan kontrak pertanggungan maupun pembayaran pengganti ketika investasi mengalami kerugian.
BeInCrypto juga mencatat bahwa Kiyosaki sebelumnya menyampaikan target emas US$27.000 per troy ounce, perak US$100 – US$200, dan Bitcoin US$250.000. Angka tersebut merupakan prediksi pribadi Kiyosaki, bukan harga yang dijamin akan tercapai.
Inflasi AS Masih di Atas Target The Fed
Bureau of Economic Analysis (BEA) melaporkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau PCE naik 3,4% secara tahunan pada Agustus 2026. Secara bulanan, kenaikannya mencapai 0,3%.
Sementara itu, inflasi PCE inti, yang mengecualikan makanan dan energi, mencapai 3,0% secara tahunan. Data tersebut dirilis pada 30 September 2026.
Angka inflasi utama masih melampaui sasaran jangka panjang Federal Reserve sebesar 2%, yang diukur menggunakan perubahan tahunan indeks harga PCE.
Kenaikan tingkat harga berarti uang dengan nominal yang sama dapat membeli lebih sedikit barang dan jasa. Meski demikian, data inflasi tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa emas, perak, atau Bitcoin akan memberikan imbal hasil positif pada periode yang sama.
Data Emas dan Perak Menunjukkan Perbedaan
World Gold Council mencatat total permintaan emas, termasuk transaksi over-the-counter, mencapai 1.269 ton pada kuartal II 2026, relatif tidak berubah dibandingkan setahun sebelumnya. Pembelian bersih bank sentral mencapai 289 ton.
Pada periode yang sama, ETF emas justru mengalami arus keluar setara 45 ton. Harga acuan emas LBMA PM rata-rata mencapai US$4.506,29 per troy ounce, turun 8% dibandingkan kuartal sebelumnya, meskipun masih 37% lebih tinggi secara tahunan. Angka ini merupakan rata-rata kuartalan, bukan harga terkini.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pembelian bank sentral dapat berlangsung bersamaan dengan penjualan oleh investor ETF dan penurunan harga. Dalam risetnya, World Gold Council juga menyatakan bahwa kemampuan emas melindungi dari inflasi lebih terlihat dalam jangka panjang, sementara hasilnya dalam jangka pendek kurang konsisten.
Perak memiliki keterkaitan lebih langsung dengan kegiatan industri. Menurut World Silver Survey 2026, permintaan industri mencapai 657,4 juta troy ounce pada 2025, turun 3%. Pertumbuhan penggunaan untuk infrastruktur AI, otomotif, dan jaringan listrik belum mengimbangi pelemahan kebutuhan sektor fotovoltaik.
Untuk 2026, laporan yang diterbitkan pada April tersebut memproyeksikan defisit pasar perak sebesar 46,3 juta troy ounce. Ini masih merupakan perkiraan tahunan, bukan realisasi akhir tahun.
Pasokan Bitcoin Terbatas, Harga Tetap Berfluktuasi
Bitcoin (BTC) berbeda dari logam mulia karena batas penerbitannya ditentukan oleh aturan protokol. Berdasarkan penjelasan Bitcoin.org, jumlah maksimal Bitcoin adalah 21 juta BTC, dengan penerbitan baru yang berkurang secara bertahap.
Batas tersebut menjadi salah satu alasan Kiyosaki memilih Bitcoin. Namun, kelangkaan pasokan tidak menentukan besarnya permintaan, sehingga tidak menjamin harga atau daya beli pemiliknya.
Dalam panduan mengenai produk bursa berbasis Bitcoin dan Ether, kantor edukasi investor SEC AS menyoroti volatilitas serta sifat spekulatif aset kripto. Risiko pada aset dasarnya tetap berlaku meskipun investor memperoleh eksposur melalui produk yang diperdagangkan di bursa.
Cara penyimpanan juga memengaruhi risiko. Pemilik BTC yang menggunakan bursa atau kustodian bergantung pada keamanan dan kemampuan perusahaan tersebut memenuhi kewajibannya.
Mengenal Ticker Terkait di Pasar AS
Selain membeli aset secara langsung, investor pasar AS dapat memperoleh eksposur melalui produk bursa. Contohnya adalah iShares Gold Trust (NYSE Arca: IAU) untuk emas, iShares Silver Trust (NYSE Arca: SLV) untuk perak, dan iShares Bitcoin Trust ETF (NASDAQ: IBIT) untuk Bitcoin. Ketiganya bertujuan mengikuti pergerakan harga aset masing-masing.
Membeli unit produk tersebut berbeda dari menyimpan logam fisik atau menguasai Bitcoin dalam dompet pribadi. Investor memiliki unit produk dengan ketentuan kustodian, biaya, dan mekanisme perdagangan tersendiri.
Menurut informasi penerbit, biaya sponsor tahunan IAU dan IBIT masing-masing sebesar 0,25%, sedangkan SLV sebesar 0,50%. Biaya ini menjadi salah satu unsur yang dapat membuat hasil investasi berbeda dari perubahan harga aset dasarnya.
IAU, SLV, dan IBIT merupakan contoh instrumen terkait, bukan produk yang disebut sebagai rekomendasi Kiyosaki dalam unggahan tersebut. Pernyataannya membahas alasan memiliki emas, perak, dan BTC; data inflasi, permintaan, pasokan, serta struktur kepemilikan memberikan konteks untuk menilai ketiga aset itu.
Tiga Aset, Tiga Cara Menghadapi Ketidakpastian
Emas, perak, dan Bitcoin memiliki karakteristik serta risiko yang berbeda. Pantau BTC dan berbagai pilihan aset investasi lainnya melalui Nanovest.
Investasi memiliki risiko. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi. Nanovest terdaftar dan diawasi oleh OJK.
Referensi +
- Bitcoin.com - Pernyataan Kiyosaki
- BEA - PCE Agustus 2026
- World Gold Council - Emas dan Inflasi
- SEC - Panduan Investor





