Harga minyak dunia anjlok setelah hasil pemilu paruh waktu Amerika Serikat mengubah perhitungan pasar terhadap perang Iran. Pelaku pasar meningkatkan ekspektasi bahwa perubahan kendali Kongres akan memperbesar dorongan untuk mengakhiri konflik. Pada penutupan perdagangan Rabu, 4 November 2026, Brent kehilangan US$8,98 per barel, sedangkan West Texas Intermediate atau WTI turun US$7,97 per barel.
Tekanan berlanjut pada perdagangan Asia keesokan harinya. Meski begitu, penurunan harga belum berarti risiko pasokan sudah selesai. Data ekspor kawasan Teluk masih menunjukkan pemulihan yang belum merata, sementara saham energi ikut tertekan.
Brent dan WTI Lanjut Turun pada 5 November
Pada Kamis, 5 November 2026 pukul 09.11 WIB, harga minyak berjangka Brent turun 1,03% ke US$93,65 per barel. WTI melemah 1,29% ke US$86,98 per barel. Keduanya memasuki hari keempat penurunan berturut-turut. Angka ini merupakan harga intraday, sehingga berbeda dengan harga penutupan sesi sebelumnya.
Mengapa Hasil Pemilu AS Menekan Harga Minyak?
Kemenangan Demokrat dalam perebutan kendali Kongres meningkatkan harapan bahwa pemerintahan Donald Trump akan menghadapi tekanan lebih besar untuk menyelesaikan konflik Timur Tengah. Pasar kemudian mengurangi sebagian premi risiko geopolitik, yaitu tambahan harga yang mencerminkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan akibat konflik.
Perubahan ekspektasi ini menjelaskan mengapa harga minyak bisa turun sebelum ada kepastian perdamaian. Namun, analis masih menilai arah penyelesaian konflik belum pasti. Harapan terhadap diplomasi perlu dibedakan dari kesepakatan yang benar-benar terlaksana.
Pasokan dari Kawasan Teluk Belum Sepenuhnya Pulih
Data Vortexa yang dikutip Reuters menunjukkan ekspor minyak mentah dan kondensat kawasan Teluk mencapai rata-rata 14 juta barel per hari pada Oktober, sekitar 86% dari tingkat sebelum perang. Ekspor produk olahan baru sedikit di atas separuh kondisi normal. Angka tersebut mengecualikan Iran dan masih dapat direvisi karena sebagian kapal mematikan sinyal pelacakan.
Artinya, pemulihan pengiriman belum seragam. Kondisi Selat Hormuz tetap perlu dipantau melalui volume pengiriman yang terealisasi, keamanan pelayaran, dan perkembangan negosiasi. Penurunan premi risiko di pasar berjangka dapat berlangsung lebih cepat daripada normalisasi pasokan fisik.
Stok Minyak AS Turun di Tengah Pelemahan Harga
Data Energy Information Administration atau EIA menunjukkan persediaan minyak mentah komersial AS, di luar cadangan strategis, turun dari 410,625 juta barel menjadi 409,760 juta barel pada pekan yang berakhir 30 Oktober 2026. Selisihnya mencapai 865.000 barel.
Persediaan produk bahan bakar juga menyusut. Stok distilat, termasuk diesel dan minyak pemanas, turun 3,6 juta barel menjadi 99,3 juta barel, level terendah sejak Mei 2003. Stok bensin berkurang 222.000 barel menjadi sekitar 209 juta barel.
Data ini menjadi pembeda penting dalam membaca penurunan harga terbaru. Minyak melemah meski persediaan AS berkurang, sementara pemberitaan pasar mengaitkan aksi jual dengan perubahan ekspektasi terhadap perang Iran. Karena itu, penurunan harga kali ini tidak cukup dijelaskan sebagai akibat kenaikan stok.
Saham Energi Ikut Tertekan, Apa yang Perlu Dipantau?
Pelemahan minyak turut diikuti penjualan saham sektor energi. Pada 4 November pukul 13.43 waktu New York, laporan MT Newswires mencatat NYSE Energy Sector Index turun 5,4%, sementara Energy Select Sector SPDR ETF (XLE) melemah 5,6%. Angka tersebut merupakan pergerakan intraday, bukan hasil penutupan.
Pada akhir sesi, saham Chevron (CVX) ditutup turun 3,69% ke US$216,96. Pada hari yang sama, indeks S&P 500 justru naik 1,58%. Perbedaan arah ini menunjukkan bahwa penguatan pasar saham secara umum tidak otomatis mengangkat sektor energi.
Bagi investor, perkembangan berikutnya perlu dibaca dari dua sisi: apakah harapan diplomasi berubah menjadi kemajuan nyata, dan apakah pengiriman minyak kembali pulih secara berkelanjutan. Data stok serta laporan perusahaan energi kemudian membantu menilai bagaimana perubahan harga komoditas tercermin pada kondisi bisnis.
Harga Minyak Anjlok, Bagaimana Nasib Saham Energi?
Harga minyak turun tajam seiring meningkatnya harapan meredanya perang Iran. Saham energi seperti Chevron (CVX) pun ikut tertekan. Pantau pergerakan saham CVX melalui Nanovest dan ikuti perkembangan harga minyak, geopolitik, serta kabar pasar terbaru lewat News & Artikel Tips!
Referensi +
- EIA - Persediaan minyak AS
- WSJ - Persediaan bahan bakar AS






