Ekspansi infrastruktur kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat diperkirakan terus meningkat hingga akhir dekade. Namun, ketersediaan listrik mulai menjadi salah satu faktor yang dapat menentukan kecepatan pembangunan data center dan realisasi permintaan perangkat komputasi.
Menurut data yang dikutip The Kobeissi Letter, jumlah data center AS berkapasitas lebih dari 100 megawatt (MW) berpotensi meningkat lebih dari tiga kali lipat pada 2030. Di sisi lain, Morgan Stanley memperkirakan adanya kesenjangan antara kebutuhan listrik fasilitas baru dan pasokan yang tersedia.
Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi perusahaan di sepanjang rantai pasok AI, mulai dari produsen chip seperti Nvidia (NVDA) dan Advanced Micro Devices (AMD) hingga penyedia infrastruktur daya. Besarnya investasi data center belum tentu langsung diterjemahkan menjadi pendapatan apabila fasilitas belum memperoleh sambungan listrik yang memadai.
Data Center AS Diproyeksikan Tembus 280 Fasilitas
Menurut The Kobeissi Letter, saat ini terdapat sekitar 90 data center di AS dengan kebutuhan daya lebih dari 100 MW. Jumlah tersebut berpotensi meningkat menjadi sekitar 280 fasilitas pada 2030 jika seluruh proyek yang direncanakan dapat diselesaikan.
Perusahaan teknologi diperkirakan mengalokasikan sekitar US$7 triliun untuk pembangunan data center hingga 2030. Amazon (AMZN), Microsoft (MSFT), Alphabet (GOOG), dan Meta (META) juga disebut telah menandatangani kontrak sewa dengan nilai gabungan lebih dari US$1,5 triliun sejak ekspansi AI dimulai.
Investasi tersebut melibatkan berbagai perusahaan publik dalam rantai pasok. Nvidia (NVDA), AMD, dan Broadcom (AVGO) memasok chip komputasi, sementara Micron (MU) menyediakan produk memori. Dell (DELL) dan Super Micro Computer (SMCI) bergerak di pasar server, sedangkan Vertiv (VRT) dan GE Vernova (GEV) menyediakan teknologi pendukung infrastruktur daya.
Operator seperti Equinix (EQIX) dan Digital Realty (DLR) juga berada dalam ekosistem pembangunan fasilitas data center.
Namun, pertumbuhan jumlah fasilitas belum tentu berjalan sesuai jadwal. Selain ketersediaan chip dan server, proyek membutuhkan pasokan listrik yang cukup sebelum kapasitas komputasi dapat digunakan secara komersial.
Morgan Stanley Perkirakan Defisit Listrik 32 GW
Morgan Stanley memperkirakan pengembang data center AS akan menghadapi kekurangan pasokan listrik bersih sekitar 32 gigawatt (GW) pada 2028, atau setara sekitar 34% dari kebutuhan.
Estimasi tersebut telah memperhitungkan berbagai upaya penyediaan listrik tambahan, termasuk pembangkit di lokasi dan teknologi fuel cell. Meski demikian, pasokan yang tersedia diperkirakan belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan fasilitas baru.
Proyeksi kebutuhan listrik data center juga disebut meningkat sekitar 43% dibandingkan estimasi sebelumnya, mencerminkan besarnya perubahan kebutuhan energi akibat ekspansi infrastruktur AI.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, pengembang mempertimbangkan sejumlah alternatif, mulai dari turbin gas dan fuel cell hingga tenaga nuklir. Namun, pembangunan pembangkit, penyediaan sambungan jaringan, dan pengadaan peralatan kelistrikan membutuhkan waktu.
Akibatnya, fasilitas yang telah memiliki gedung dan server belum tentu dapat langsung beroperasi. Keterlambatan pasokan listrik dapat menunda penggunaan kapasitas komputasi sekaligus pendapatan yang diharapkan dari fasilitas tersebut.
Nvidia dan Broadcom Dinilai Lebih Terlindungi
Risiko keterbatasan listrik tidak diperkirakan berdampak sama terhadap seluruh perusahaan semikonduktor.
Morgan Stanley menilai hambatan pasokan listrik belum menjadi ancaman utama bagi proyeksi laba Nvidia dan Broadcom pada 2027. Kedua perusahaan dinilai memiliki visibilitas yang relatif tinggi terhadap penggunaan chip oleh pelanggan.
Nvidia juga dipandang memiliki keunggulan efisiensi komputasi, termasuk jumlah token AI yang dapat dihasilkan per gigawatt listrik. Hal tersebut dapat membuat sistem komputasinya tetap diprioritaskan ketika kapasitas daya terbatas.
Sebaliknya, pemasok komponen pendukung, termasuk ASIC, memori, jaringan optik, dan sistem manajemen daya, berpotensi lebih terdampak oleh perubahan jadwal pembangunan.
Apabila pengoperasian data center tertunda, pelanggan dapat memilih menggunakan persediaan perangkat yang sudah dibeli sebelum melakukan pemesanan tambahan. Kondisi ini berpotensi menggeser waktu realisasi pendapatan pemasok, meskipun rencana investasi AI secara keseluruhan belum berubah.
Dengan demikian, pertumbuhan belanja AI tidak selalu menghasilkan peningkatan pendapatan dengan kecepatan yang sama bagi setiap perusahaan dalam rantai pasoknya.
Proyek Oracle Tunjukkan Risiko Penundaan
Salah satu proyek yang menjadi perhatian adalah Project Lighthouse milik Oracle di Wisconsin, dengan kebutuhan daya sekitar 1,3 GW.
Berdasarkan estimasi dalam draft, proyek tersebut berpotensi baru memperoleh pasokan listrik paling cepat pada Oktober 2028. Dalam skenario yang lebih lambat, ketersediaan listrik dapat mundur hingga musim semi 2029.
Perbedaan jadwal tersebut menunjukkan bagaimana keterlambatan infrastruktur energi dapat memengaruhi waktu pengoperasian fasilitas. Server yang telah terpasang belum dapat menghasilkan kapasitas komputasi yang dijual kepada pelanggan tanpa pasokan listrik yang memadai.
Selain energi, proyek data center juga menghadapi tantangan lain, termasuk keterbatasan tenaga kerja terampil serta proses perizinan dan penolakan terhadap pembangunan fasilitas baru di sejumlah wilayah.
Bagi investor, perkembangan tersebut menambah indikator yang perlu diperhatikan dalam menilai perusahaan terkait AI. Selain pertumbuhan pesanan chip, jadwal ketersediaan listrik, penyelesaian proyek, tingkat persediaan pelanggan, dan realisasi pendapatan dapat membantu menunjukkan seberapa cepat investasi infrastruktur berubah menjadi aktivitas bisnis.
Ekspansi data center AS masih menawarkan peluang bagi perusahaan semikonduktor dan infrastruktur. Namun, kemampuan memperoleh pasokan listrik dapat menjadi salah satu faktor penting yang membedakan kecepatan pertumbuhan masing-masing perusahaan.
Ekspansi AI Butuh Lebih dari Sekadar Chip
Pasokan listrik mulai menjadi faktor penting dalam pembangunan data center AS. Pantau NVDA, AVGO, dan saham infrastruktur AI lainnya melalui Nanovest.
Investasi memiliki risiko. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi. Nanovest terdaftar dan diawasi oleh OJK.
Referensi +
- U.S. large-scale data centers could triple by 2030: Kobeissi
- U.S. Data Center Power Crunch Poses Greater Risk to Memory and Optical Networking Than Nvidia





