Investor mulai menarik dana dari ETF Bitcoin (BTC) spot di Amerika Serikat. Dalam dua pekan, total arus dana keluar bersih dari produk investasi tersebut mencapai sekitar US$910 juta. Perkembangan ini terjadi ketika pasar menghadapi tekanan dari data inflasi AS dan ketidakpastian mengenai kebijakan suku bunga.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar semakin memperhatikan hubungan antara perkembangan ekonomi global, arus investasi institusional, dan pergerakan harga aset kripto.
Arus Dana Keluar ETF Bitcoin Mencapai US$910 Juta
Menurut data SoSoValue yang dikutip dalam laporan Decrypt di Yahoo Finance, ETF Bitcoin spot di AS mencatat arus dana keluar bersih sebesar US$228,6 juta pada pekan yang berakhir 16 Oktober 2026. Angka ini menyusul arus keluar sebesar US$681,1 juta pada pekan sebelumnya.
Secara keseluruhan, sekitar US$910 juta keluar dari produk ETF tersebut selama dua pekan.
Pergerakan dana tidak sepenuhnya negatif setiap hari. Pada 13 Oktober, ETF Bitcoin sempat mencatat arus masuk sebesar US$175,7juta. Namun, sehari kemudian, terjadi penarikan dana sebesar US261,4 juta yang menekan kinerja mingguan.
Perubahan ini memperlihatkan bahwa arus investasi Bitcoin masih berfluktuasi. Meski penarikan dana dalam jumlah besar dapat mencerminkan sikap investor yang lebih berhati-hati, kondisi tersebut belum tentu menandakan perubahan tren jangka panjang.
Inflasi AS Menambah Tekanan terhadap Bitcoin
Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah data inflasi Amerika Serikat. Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) pada September 2026 tercatat meningkat 3,7% secara tahunan, melampaui perkiraan pasar sebesar 3,6%.
Data inflasi produsen atau Producer Price Index (PPI) yang dirilis setelahnya juga lebih tinggi dari ekspektasi. Perkembangan ini meningkatkan perhatian investor terhadap kemungkinan Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau kembali memperketat kebijakan moneternya.
Suku bunga menjadi faktor penting bagi aset berisiko seperti Bitcoin. Ketika imbal hasil instrumen yang relatif aman meningkat, sebagian investor dapat memilih mengurangi eksposur pada aset yang memiliki volatilitas lebih tinggi.
Selain itu, biaya pinjaman yang lebih mahal dapat membatasi penggunaan leverage dalam perdagangan kripto. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi likuiditas dan memperbesar tekanan ketika harga bergerak tajam.
Bitcoin Sempat Turun di Bawah US$80.000
Di tengah tekanan pasar, harga Bitcoin sempat turun di bawah US$80.000 pada 15 Oktober 2026. Pada periode yang sama, hampir US$950 juta posisi trading kripto dengan leverage mengalami likuidasi dalam waktu 24 jam, berdasarkan data CoinGlass yang dikutip Decrypt.
Sekitar 90% dari posisi yang dilikuidasi merupakan posisi long, yaitu posisi yang mengandalkan kenaikan harga aset.
Ketika harga bergerak berlawanan dengan prediksi trader, posisi dengan leverage dapat ditutup secara otomatis untuk membatasi kerugian. Proses ini dapat memicu transaksi tambahan dan memperbesar volatilitas pasar.
Penurunan harga Bitcoin tersebut juga membuat nilainya berada di bawah estimasi harga beli rata-rata pemegang ETF, yang diperkirakan sekitar US$82.300 oleh analis Nexo, Iliya Kalchev. Angka tersebut merupakan estimasi dan tidak mewakili harga beli seluruh investor ETF.
Arus Dana ETF Bitcoin Membuat Oktober Berada di Zona Negatif
Bulan Oktober sering mendapat julukan Uptober di kalangan komunitas kripto karena secara historis Bitcoin kerap mencatat penguatan pada periode tersebut. Namun, pergerakan tahun ini menunjukkan kondisi yang berbeda.
Berdasarkan pelacak arus ETF yang digunakan Decrypt, produk ETF Bitcoin sempat mencatat arus masuk sekitar US$293 juta pada awal Oktober. Setelah penarikan dana berikutnya, arus dana bersih sepanjang bulan tersebut berubah menjadi negatif, dengan total arus keluar sekitar US$615 juta.
Tekanan serupa juga terlihat pada ETF Ethereum dan Solana yang turut mencatat arus dana keluar selama Oktober.
Meski demikian, kinerja dalam satu bulan tidak cukup untuk menentukan arah pasar berikutnya. Perubahan sentimen investor, perkembangan inflasi, kebijakan bank sentral, dan kondisi likuiditas tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Apa yang Perlu Diperhatikan Investor?
Arus dana ETF dapat menjadi salah satu indikator untuk memahami minat investor terhadap Bitcoin. Namun, pergerakan harga aset kripto juga dipengaruhi oleh aktivitas perdagangan di bursa, kondisi ekonomi global, likuiditas pasar, serta sentimen investor.
Penarikan dana dalam jumlah besar tidak secara otomatis berarti harga Bitcoin akan terus turun. Sebaliknya, arus masuk dana juga tidak menjamin harga akan selalu menguat.
Karena itu, investor perlu mempertimbangkan berbagai faktor sebelum mengambil keputusan investasi. Memahami perkembangan ekonomi makro, memperhatikan risiko volatilitas, dan menghindari penggunaan leverage secara berlebihan dapat membantu investor menghadapi perubahan kondisi pasar.
Artikel ini bertujuan untuk memberikan informasi dan edukasi, bukan merupakan rekomendasi untuk membeli atau menjual aset kripto.
Baca berita lainnya terkait Bitcoin di halaman ini.
ETF Bitcoin Ditinggal Dana, Bagaimana Arah BTC Selanjutnya?
Arus keluar US$910 juta dari ETF Bitcoin dan tekanan inflasi AS membuat pasar kripto kembali menjadi sorotan. Pantau pergerakan BTC dan aset kripto lainnya melalui Nanovest. Ikuti juga perkembangan ETF, kebijakan The Fed, dan berita pasar terbaru di News & Artikel Tips Nanovest.
Investasi aset kripto memiliki risiko dan volatilitas tinggi. Lakukan riset mandiri serta pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi.
Referensi +
- Decrypt: Bitcoin ETFs Shed Nearly $1 Billion in Two Weeks as Uptober Stays Red






