Bitcoin (BTC) memasuki pekan ketiga Oktober 2026 dengan mempertahankan level support penting di tengah tekanan pasar obligasi Amerika Serikat dan meningkatnya ketidakpastian arah kebijakan moneter.
Setelah mengalami penurunan sepanjang pekan sebelumnya, Bitcoin berhasil menutup perdagangan mingguan di atas US$82.500, level yang menjadi perhatian trader sebagai penopang pergerakan harga dalam jangka pendek.
Namun, pemulihan pasar kripto masih menghadapi tantangan. Yield obligasi pemerintah AS yang berada pada level tinggi meningkatkan daya tarik instrumen berpendapatan tetap, sementara investor menantikan rilis data inflasi September yang dapat memengaruhi keputusan suku bunga Federal Reserve.
Dua agenda utama, yakni Consumer Price Index (CPI) pada Rabu, 14 Oktober, dan Producer Price Index (PPI) pada Kamis, 15 Oktober, berpotensi menjadi pemicu volatilitas berikutnya bagi Bitcoin dan pasar keuangan global.
Yield Treasury AS Tinggi, Bitcoin Hadapi Tekanan
Pergerakan pasar obligasi AS menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi sentimen investor kripto.
Menurut analisis Bitunix, yield Treasury AS tenor 10 tahun sempat melampaui 5,35% pada Oktober 2026, mencapai level tertinggi dalam 24 tahun. Kenaikan tersebut terjadi bersamaan dengan pelemahan Bitcoin yang sempat turun di bawah US$82.000.
Imbal hasil obligasi pemerintah yang lebih tinggi dapat meningkatkan daya tarik Treasury AS bagi investor karena menawarkan pendapatan bunga reguler dengan risiko kredit yang relatif rendah.
Sebaliknya, Bitcoin tidak memberikan pendapatan bunga tetap. Ketika yield obligasi meningkat, sebagian investor dapat memilih mengalihkan dana dari aset berisiko seperti kripto ke instrumen berpendapatan tetap atau kas.
Tekanan tersebut juga meluas ke pasar saham, terutama perusahaan teknologi dan bisnis yang berkaitan dengan aset digital. Bitunix mencatat pelemahan mingguan pada saham perusahaan terkait kripto, termasuk Strategy (MSTR) dan Circle.
Meski demikian, yield Treasury mulai mengalami penurunan pada awal pekan ini. Pada Senin, 12 Oktober, yield obligasi AS tenor 10 tahun berada di sekitar 5,24%, sementara tenor 30 tahun tercatat sekitar 5,60%.
Perubahan arah yield menjadi penting karena penurunan yang berkelanjutan berpotensi mengurangi tekanan terhadap aset berisiko. Sebaliknya, apabila yield kembali meningkat, Bitcoin dapat menghadapi hambatan tambahan untuk mempertahankan pemulihannya.
Perkembangan harga energi juga menjadi bagian dari perhatian pasar. Minyak mentah WTI diperdagangkan sekitar US$91,50 per barel pada Senin setelah sempat turun ke US$89,60, di tengah perkembangan kesepakatan pasokan solar antara AS dan Rusia.
Pergerakan harga energi relevan bagi investor karena dapat memengaruhi tekanan inflasi dan ekspektasi kebijakan moneter AS.
Bitcoin Pertahankan Support US$82.500 di Tengah Pelemahan Kripto
Bitcoin mengakhiri perdagangan pekan sebelumnya dengan penurunan, tetapi masih berhasil mempertahankan level teknikal yang dinilai penting oleh sejumlah analis.
Menurut data yang dikutip Cointelegraph, BTC/USD menutup perdagangan mingguan pada Minggu, 11 Oktober, di sekitar US$83.700, turun sekitar 3,2% dalam sepekan.
Penutupan tersebut mempertahankan support mingguan di US$82.500, sehingga Bitcoin belum kembali memasuki kisaran perdagangan sebelumnya pada 2026, yakni sekitar US60.000–US80.000.
Level US$82.500 menjadi perhatian karena sebelumnya telah beberapa kali diuji setelah Bitcoin mengalami breakout pada Juli.
Sejumlah analis teknikal menilai kemampuan Bitcoin mempertahankan area tersebut dapat menjadi faktor pendukung stabilisasi harga. Namun, apabila support gagal bertahan, risiko pelemahan menuju kisaran harga yang lebih rendah dapat meningkat.
Tekanan pasar juga tidak terbatas pada Bitcoin. Dalam laporan Bitunix untuk periode 3-9 Oktober, Bitcoin tercatat turun 3,80%, sementara Ethereum (ETH) melemah 8,39% dan XRP turun 7,09%.
Dari 300 aset kripto terbesar yang dipantau Bitunix, hanya sekitar 20% yang mencatatkan kenaikan, sedangkan rata-rata imbal hasil mingguannya mencapai minus 5,18%.
Sejumlah token decentralized finance (DeFi) mengalami penurunan lebih dalam. Uniswap (UNI) melemah 18,37%, sementara PancakeSwap (CAKE) turun 15,92%.
Meski pasar secara umum melemah, aktivitas spekulatif masih terlihat pada beberapa aset. Token The Sandbox (SAND), misalnya, mencatat kenaikan 57,71% selama periode pengamatan Bitunix, meskipun belum terdapat bukti kuat mengenai perbaikan fundamental yang menjadi pendorong kenaikan tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pergerakan pasar kripto masih beragam, dengan sebagian besar aset menghadapi tekanan sementara beberapa token mencatatkan kenaikan tajam.
CPI dan PPI AS Jadi Katalis Utama Pekan Ini
Perhatian investor kini beralih ke rilis data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung pada 14-15 Oktober 2026.
Data Consumer Price Index (CPI) September akan dirilis pada Rabu, 14 Oktober, diikuti Producer Price Index (PPI) pada Kamis, 15 Oktober.
Kedua indikator tersebut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi arah suku bunga Federal Reserve menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28 Oktober 2026.
Pada Agustus, inflasi CPI tahunan AS tercatat sebesar 3,4%. Untuk September, sumber berita menunjukkan perkiraan kenaikan menjadi sekitar 3,6%-3,7% secara tahunan, mencerminkan perbedaan estimasi yang digunakan masing-masing laporan.
Sementara itu, PPI diperkirakan meningkat 0,3% secara bulanan, dibandingkan kenaikan 0,2% pada Agustus.
Tekanan inflasi antara lain berkaitan dengan kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah dan perkembangan pasar minyak global.
Apabila CPI atau PPI lebih tinggi dari perkiraan, pasar dapat meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter ketat atau menaikkan suku bunga. Kondisi tersebut berpotensi mendorong yield Treasury kembali naik dan meningkatkan tekanan terhadap Bitcoin.
Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi dapat meredakan tekanan pada pasar obligasi serta mendukung minat investor terhadap aset berisiko.
Menurut data CME FedWatch yang dikutip Cointelegraph, pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 18,8% pada pertemuan 28 Oktober, dari kisaran suku bunga saat ini sebesar 3,75%-4,00%.
Untuk pertemuan Desember, probabilitas kenaikan 25 basis poin menuju kisaran 4,00%–4,25% tercatat sebesar 70,6% pada saat laporan diterbitkan.
Angka tersebut merupakan ekspektasi pasar yang dapat berubah mengikuti data ekonomi terbaru, bukan keputusan resmi The Fed.
Selain data inflasi, investor juga akan mencermati perkembangan harga energi dan komunikasi pejabat bank sentral, termasuk agenda diskusi Ketua The Fed Kevin Warsh bersama Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva pada Jumat.
Dengan berbagai agenda tersebut, pergerakan Bitcoin pekan ini tidak hanya bergantung pada kondisi teknikal harga, tetapi juga pada respons pasar obligasi dan ekspektasi suku bunga setelah rilis data inflasi AS.
Bitcoin Bertahan, CPI AS Jadi Ujian Berikutnya!
Harga Bitcoin masih dipengaruhi pergerakan yield Treasury dan ekspektasi suku bunga AS. Pantau Bitcoin (BTC) dan aset kripto lainnya melalui Nanovest, serta ikuti perkembangan pasar terbaru di News & Artikel Tips agar tidak ketinggalan katalis penting berikutnya.
Investasi memiliki risiko. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi. Nanovest terdaftar dan diawasi oleh OJK.
Referensi +
- BeInCrypto: Bitcoin’s Next Move Depends on the US Bond Market and Inflation Report
- CoinTelegraph: BTC price support holds ahead of US CPI data: Three things Bitcoin traders need to know this week






