Optimisme Wall Street terhadap kecerdasan buatan (AI) belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Perusahaan teknologi yang menjadi bagian dari ekosistem AI terus menjadi sumber utama pertumbuhan laba, sementara investor mulai melihat dampak investasi AI terhadap earnings hingga 2027.
Namun, di balik optimisme tersebut muncul satu kekhawatiran baru: pertumbuhan earnings pasar saham AS semakin bergantung pada beberapa perusahaan dan sektor yang berkaitan dengan AI. Jika ekspektasi terhadap belanja AI atau pertumbuhan pendapatan tidak tercapai, pasar berpotensi menghadapi apa yang disebut Barclays sebagai “air pocket” atau periode pelemahan yang cukup tajam.
Semikonduktor Jadi Motor Utama Revisi Earnings
Menurut analisis Barclays strategist Venu Krishna yang dikutip Yahoo Finance, sekitar 40% dari seluruh revisi proyeksi earnings S&P 500 untuk 2026 sepanjang tahun berjalan berasal dari industri semikonduktor dan hardware.
Ketergantungan tersebut bahkan semakin besar ketika melihat proyeksi 2027. Sekitar 75% revisi earnings S&P 500 untuk 2027 berasal dari sektor semikonduktor dan hardware.
Kondisi ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh AI terhadap ekspektasi laba perusahaan-perusahaan di Wall Street. Permintaan terhadap chip, server, data center, dan infrastruktur AI membuat perusahaan di sepanjang rantai pasok teknologi mendapatkan dorongan pertumbuhan yang signifikan.
Namun, semakin besar kontribusinya, semakin besar pula risiko apabila ekspektasi tersebut tidak terpenuhi. Barclays memperingatkan bahwa proyeksi earnings pasar secara keseluruhan dapat mengalami “air pocket” apabila asumsi mengenai capital expenditure (capex), pricing, dan breadth ternyata terlalu optimistis.
Nvidia, Apple, dan Microsoft Makin Dominan
Optimisme terhadap AI juga membuat pasar saham AS semakin terkonsentrasi pada sejumlah perusahaan raksasa.
Data Creative Planning yang dikutip Yahoo Finance menunjukkan bahwa Nvidia (NVDA), Apple (AAPL), dan Microsoft (MSFT) kini menyumbang lebih dari 21% bobot S&P 500. Angka tersebut menunjukkan betapa pentingnya ketiga perusahaan tersebut terhadap pergerakan indeks secara keseluruhan.
Nvidia menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari ledakan AI karena posisinya sebagai pemasok GPU dan infrastruktur komputasi untuk data center. Microsoft juga terus memperluas investasi AI melalui cloud dan layanan berbasis kecerdasan buatan, sementara Apple menjadi salah satu perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di indeks.
Konsentrasi seperti ini membuat kenaikan indeks terlihat kuat, tetapi juga meningkatkan sensitivitas pasar terhadap kinerja perusahaan-perusahaan tersebut. Jika earnings atau outlook mereka mengecewakan, dampaknya dapat terasa lebih luas terhadap indeks.
Belanja AI Jadi Kunci hingga 2027
Di sisi lain, sejumlah analis masih melihat siklus AI berada pada tahap awal. Dan Ives dari Wedbush Securities menilai investor masih berpotensi meremehkan skala investasi AI yang diperkirakan mencapai sekitar US$4 triliun dalam beberapa tahun ke depan.
Investasi tersebut mencakup pembangunan data center, pembelian chip, jaringan, server, energi, hingga berbagai infrastruktur pendukung lainnya.
Besarnya belanja modal tersebut menjadi alasan utama Wall Street tetap optimistis terhadap perusahaan teknologi. Selama hyperscaler dan perusahaan teknologi besar terus meningkatkan capex AI, pemasok chip dan hardware masih memiliki peluang untuk mencatat pertumbuhan pendapatan.
Namun, pertanyaan berikutnya adalah apakah investasi tersebut mampu menghasilkan return yang cukup besar. Jika belanja AI melambat atau monetisasi teknologi tidak sesuai ekspektasi, pertumbuhan earnings perusahaan yang selama ini menjadi motor pasar dapat ikut terpengaruh.
Risiko Pasar Mulai Meningkat
Selain risiko dari perlambatan investasi AI, pasar juga menghadapi tekanan dari suku bunga dan imbal hasil Treasury yang tinggi. Kenaikan biaya pendanaan dapat membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam mengambil utang untuk membiayai ekspansi.
Reuters mencatat bahwa earnings S&P 500 diperkirakan tumbuh sekitar 35% pada 2026, tetapi pertumbuhan tersebut diproyeksikan melambat menjadi sekitar 15% pada 2027. Salah satu faktor utamanya adalah pertumbuhan belanja AI yang diperkirakan mulai melambat dari level yang sangat tinggi saat ini.
Artinya, tantangan Wall Street bukan lagi sekadar apakah AI akan terus berkembang, tetapi seberapa besar pertumbuhan laba yang benar-benar dapat dihasilkan dari investasi AI tersebut.
Selama earnings tetap kuat, saham teknologi berpotensi mempertahankan momentumnya. Namun, jika ekspektasi capex, pricing, atau monetisasi AI mulai meleset, pasar yang sangat terkonsentrasi pada saham teknologi dapat mengalami koreksi lebih cepat.
AI Dorong Wall Street, Seberapa Kuat Earnings-nya?
Pertumbuhan AI terus mengangkat proyeksi laba Wall Street hingga 2027, tetapi risiko konsentrasi pasar juga meningkat. Pantau NVDA, MSFT, AAPL, dan saham AS lainnya melalui Nanovest sambil mengikuti perkembangan earnings dan pasar global.
Investasi memiliki risiko. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi. Nanovest terdaftar dan diawasi oleh OJK.






