Reli Wall Street setelah pemilu paruh waktu Amerika Serikat (AS) hanya bertahan satu hari. Pada perdagangan Kamis, 5 November 2026, indeks saham utama AS berbalik anjlok setelah investor melepas saham teknologi dan semikonduktor yang sebelumnya menjadi pendorong kenaikan pasar.
Aksi jual tersebut dipimpin oleh saham-saham yang berkaitan dengan pengembangan kecerdasan buatan (AI), termasuk Nvidia (NVDA), AMD (AMD), Qualcomm (QCOM), dan Micron (MU). Kekhawatiran terhadap regulasi pembangunan pusat data, tingginya biaya investasi AI, serta keberlanjutan keuntungan perusahaan menjadi faktor yang membebani sentimen.
Penurunan ini juga menjadi salah satu sesi terburuk Wall Street setelah pemilu paruh waktu AS dalam catatan historis, sekaligus mendorong Nasdaq kembali memasuki wilayah koreksi.
Wall Street Anjlok, Reli Pascapemilu Hanya Bertahan Sehari
Indeks saham utama AS mencatat penurunan tajam pada perdagangan Kamis setelah sebelumnya menguat menyusul kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu paruh waktu.
Dow Jones Industrial Average turun 1.833,06 poin atau 3,44% ke level 51.523,06. S&P 500 melemah 4,36%, sementara Nasdaq Composite anjlok 5,52% ke 24.315,00.
Penurunan tersebut menghapus sebagian besar optimisme yang terbentuk pada Rabu, ketika Dow Jones melonjak sekitar 3% dan mencatat kinerja terbaiknya setelah pemilu paruh waktu sejak 1982.
Nasdaq Composite bahkan hanya membutuhkan sekitar enam menit pada awal perdagangan Kamis untuk menghapus seluruh kenaikan yang diperoleh sehari sebelumnya.
Menurut analisis Yahoo Finance, penurunan Dow Jones sebesar 3,44% menjadi kinerja hari kedua terburuk setelah pemilu paruh waktu dalam data historis yang dimulai pada 1896. S&P 500 juga mencatat kinerja hari kedua terburuk setelah pemilu paruh waktu dalam catatan hampir satu abad.
Bagi S&P 500 dan Nasdaq Composite, penurunan Kamis merupakan yang terdalam sejak aksi jual akibat kebijakan tarif pada April 2025.
Tekanan lebih besar terlihat pada Nasdaq-100 yang turun 6,36%, mencatat penurunan harian terburuk sejak Maret 2020. Indeks tersebut kehilangan sekitar US$2,3 triliun kapitalisasi pasar dalam satu sesi.
Nasdaq Composite juga ditutup hampir 12% di bawah rekor tertingginya pada 6 Oktober 2026, sehingga berada di wilayah koreksi, yaitu penurunan setidaknya 10% dari level tertinggi sebelumnya.
Selain itu, Nasdaq Composite dan Nasdaq-100 ditutup di bawah rata-rata pergerakan 200 hari untuk pertama kalinya sejak April. Indikator teknikal ini kerap digunakan investor untuk mengamati arah tren pasar dalam jangka panjang.
Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar perusahaan dalam indeks S&P 500 menyusut sekitar US$3 triliun pada perdagangan Kamis. Tekanan juga meluas ke berbagai sektor, dengan hanya sekitar satu dari tujuh saham dalam indeks tersebut yang berhasil ditutup menguat.
Saham Nvidia, AMD, dan Qualcomm Terpukul, Indeks Chip Turun 12%
Sektor semikonduktor menjadi pusat aksi jual Wall Street. Indeks Semikonduktor PHLX (SOX) anjlok 12,25% ke level 9.011,14, mencatat penurunan harian terburuk sejak Maret 2020.
Penurunan tersebut membuat indeks semikonduktor berada sekitar 38% di bawah rekor tertingginya pada Juni 2026, meskipun masih mencatat kenaikan sekitar 25% sepanjang tahun.
Saham Nvidia (NVDA) turun lebih dari 9%, menghapus hampir US$450 miliar kapitalisasi pasar perusahaan dalam satu sesi. Secara keseluruhan, saham-saham produsen chip kehilangan nilai pasar lebih dari US$1,5 triliun.
Tekanan juga melanda sejumlah perusahaan semikonduktor lainnya. Qualcomm (QCOM) ditutup turun 9,49% ke US$156,75, Micron Technology (MU) melemah 13,55%, sementara AMD (AMD) turun 12,75%.
Arm Holdings (ARM), Intel (INTC), Broadcom (AVGO), dan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSM) turut mengalami penurunan besar. Saham perusahaan memori dan penyimpanan seperti Sandisk (SNDK), Western Digital (WDC), dan Seagate (STX) juga berada di bawah tekanan.
Selain sentimen pasar, beberapa perusahaan menghadapi katalis negatif masing-masing.
Qualcomm sebelumnya melaporkan pertumbuhan bisnis pusat data, tetapi proyeksi laba untuk kuartal berjalan mengecewakan investor di tengah kenaikan biaya komponen memori. Perusahaan membukukan pendapatan pusat data sebesar US$650 juta pada kuartal terakhir, meskipun kontribusinya masih relatif kecil terhadap keseluruhan bisnis.
Micron turut tertekan setelah menunda rencana pembangunan pabrik di Taiwan akibat perselisihan tenaga kerja. Sementara itu, panduan pendapatan Arm yang sedikit melampaui konsensus belum cukup memenuhi ekspektasi investor terhadap pertumbuhan bisnis AI.
Kekurangan pasokan memori global juga menjadi tantangan bagi produsen chip. Kenaikan harga komponen dapat meningkatkan biaya produksi perangkat konsumen dan membatasi kemampuan perusahaan memenuhi permintaan.
Menariknya, tekanan saham terjadi ketika sejumlah perusahaan masih mencatat pertumbuhan bisnis pusat data. Intel melaporkan kenaikan pendapatan pusat data sebesar 78%, sedangkan AMD membukukan pertumbuhan penjualan lebih dari dua kali lipat pada segmen yang sama.
Perbedaan antara pertumbuhan bisnis dan pergerakan saham tersebut menunjukkan bahwa investor semakin memperhatikan proyeksi laba, biaya operasional, serta kemampuan perusahaan mempertahankan pertumbuhan di tengah kebutuhan investasi AI yang besar.
Kemenangan Demokrat Picu Kekhawatiran Regulasi Pusat Data AI
Perubahan sentimen pasar juga berkaitan dengan hasil pemilu paruh waktu AS yang memberikan kendali DPR dan Senat kepada Partai Demokrat.
Pada perdagangan Rabu, hasil pemilu sempat disambut positif karena meredakan ketidakpastian politik, sementara penurunan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah turut mendukung penguatan saham.
Namun, sehari kemudian, perhatian investor beralih pada kemungkinan perubahan kebijakan yang dapat memengaruhi pembangunan pusat data AI di AS.
Sejumlah negara bagian dengan rencana pembangunan pusat data berskala besar, termasuk Texas, Ohio, dan Georgia, mencatat kemenangan penting bagi Partai Demokrat.
Menurut data Ballotpedia yang dikutip CNBC, terdapat 41 usulan pemungutan suara lokal di 10 negara bagian yang berkaitan dengan pembatasan pembangunan pusat data. Hasil yang dihimpun menunjukkan dukungan luas terhadap pembatasan tersebut, dengan pengecualian satu usulan di Harwood, North Dakota.
Perkembangan ini meningkatkan kekhawatiran bahwa pembangunan pusat data baru dapat menghadapi proses perizinan, pembatasan penggunaan sumber daya, atau hambatan regulasi yang lebih ketat.
Risiko tersebut menjadi perhatian karena perusahaan teknologi besar sedang mengalokasikan belanja modal dalam jumlah besar untuk mengembangkan infrastruktur AI.
Meta (META), Alphabet (GOOG), Amazon (AMZN), dan Microsoft (MSFT) telah menetapkan rencana ekspansi infrastruktur dengan kebutuhan investasi yang sangat tinggi, termasuk pengeluaran tahunan yang melampaui US$100 miliar pada sejumlah perusahaan.
Pada saat yang sama, besarnya kebutuhan modal mulai menekan arus kas. Meta mencatat arus kas bebas negatif pada kuartal terakhir, menyusul Alphabet dan Amazon yang juga pernah mengalami kondisi serupa pada periode sebelumnya.
Investor semakin mempertanyakan apakah pertumbuhan pendapatan dari layanan AI akan mampu mengimbangi biaya pembangunan pusat data, pengadaan chip, energi, serta pembiayaan utang.
Kekhawatiran tersebut turut membebani saham perusahaan penyedia komputasi AI seperti CoreWeave (CRWV) dan Nebius (NBIS), serta perusahaan infrastruktur jaringan dan optik seperti Astera Labs (ALAB), Lumentum (LITE), dan Coherent (COHR).
Saham SpaceX (SPCX) dan Tesla (TSLA) juga turun lebih dari 9% di tengah meningkatnya perhatian terhadap potensi hambatan regulasi bagi pembangunan infrastruktur AI dan rencana korporasi kedua perusahaan.
Dengan demikian, aksi jual tidak hanya terjadi pada produsen chip, tetapi meluas ke perusahaan yang terlibat dalam rantai pasokan dan pengembangan infrastruktur AI.
Investor Ambil Untung, Nasdaq Masuk Koreksi
Selain kekhawatiran regulasi, tekanan pasar diperburuk oleh aksi ambil untung pada saham-saham yang sebelumnya mencatat kenaikan besar sepanjang 2026.
Menurut analisis Nomura yang dikutip Yahoo Finance, sejumlah hedge fund mulai mengurangi eksposur terhadap saham-saham dengan kinerja kuat untuk mengamankan keuntungan menjelang akhir tahun. Pergerakan tersebut terlihat pada saham perusahaan semikonduktor dan perangkat keras AI yang mengalami penurunan tajam selama beberapa pekan terakhir.
Dalam satu bulan, saham Lam Research (LRCX) telah turun sekitar 36%, Applied Materials (AMAT) melemah 30%, AMD kehilangan 22%, dan Nvidia turun sekitar 15%.
Tekanan juga menjangkau saham perangkat lunak AI. Palantir (PLTR) dan CrowdStrike (CRWD) sempat turun lebih dari 10% pada perdagangan Kamis, sementara Cloudflare (NET), Oracle (ORCL), dan Palo Alto Networks (PANW) turut melemah.
Aksi jual tidak hanya dilakukan investor institusional. Data Vanda Research menunjukkan investor ritel menjual bersih saham individual AS senilai US$358 juta hingga pukul 14.58 waktu setempat pada Kamis, menempatkan perdagangan tersebut pada jalur penjualan harian terbesar sejak Maret 2020.
Perubahan perilaku investor ritel ini cukup menonjol karena sebelumnya mereka cenderung membeli saham ketika pasar mengalami penurunan.
Di sisi lain, indeks volatilitas CBOE (VIX), yang sering digunakan sebagai indikator tingkat kekhawatiran pasar, melonjak sekitar 69,66% ke level 28,18.
Meski tekanan meluas, tidak seluruh saham mengalami penurunan. AppLovin (APP) justru melonjak sekitar 31% setelah membukukan hasil kuartalan yang melampaui ekspektasi dan memberikan proyeksi pendapatan yang lebih kuat.
Perbedaan kinerja tersebut menunjukkan bahwa respons investor tetap dipengaruhi kondisi dan prospek masing-masing perusahaan, meskipun sentimen pasar secara keseluruhan sedang melemah.
Selanjutnya, perhatian Wall Street akan tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS untuk Oktober yang dijadwalkan dirilis Jumat, 6 November 2026. Data tersebut dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah suku bunga Federal Reserve dan kondisi ekonomi AS.
Bagi investor, perkembangan regulasi pusat data, laporan keuangan perusahaan teknologi, serta keberlanjutan belanja modal AI menjadi faktor penting untuk memantau arah saham semikonduktor setelah koreksi tajam.
Saham Chip AI Anjlok, Saatnya Pantau Pergerakan Pasar!
Nvidia, AMD, dan Qualcomm ikut tertekan saat Wall Street mengalami aksi jual besar. Pantau pergerakan saham teknologi AS dan eksplorasi peluang investasi melalui Nanovest. Dapatkan juga kabar terbaru seputar AI, earnings, dan sentimen pasar lewat News & Artikel Tips!
Referensi +
- Yahoo Finance: Stock market today: Dow plunges 1,800 points, Nasdaq enters correction in AI trade meltdown
- Yahoo Finance: Chip stocks slaughtered as Wall Street suffers worst post-midterm day since 1896
- Yahoo Finance: Qualcomm, Micron, Sandisk, and AMD stocks sink, leading chip sector lower
- CNBC: AI meltdown: Nvidia and Qualcomm drop more than 9%, pushing Nasdaq to worst day since April 2025





