Saham Qualcomm (QCOM) merosot sekitar 7% dalam perdagangan setelah jam bursa pada Rabu, 4 November 2026, meskipun perusahaan berhasil melampaui ekspektasi pendapatan dan laba kuartalan Wall Street. Pelemahan tersebut terutama dipicu penurunan tajam penjualan chip smartphone dan prospek laba yang belum memenuhi perkiraan analis.
Produsen chip asal Amerika Serikat ini sedang mempercepat ekspansi ke bisnis pusat data AI, otomotif, dan infrastruktur jaringan. Namun, pertumbuhan bisnis baru tersebut belum sepenuhnya mengimbangi tekanan dari segmen smartphone yang masih menjadi salah satu sumber pendapatan terbesarnya.
Qualcomm Lampaui Estimasi, Saham Tetap Anjlok
Qualcomm melaporkan pendapatan disesuaikan sebesar US$10,44 miliar pada kuartal IV tahun fiskal 2026, turun sekitar 7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski mengalami penurunan tahunan, angka tersebut masih melampaui konsensus analis sekitar US$10,11 miliar.
Laba per saham (EPS) disesuaikan mencapai US$2,17, sedikit lebih tinggi dibandingkan perkiraan Wall Street sebesar US$2,16. Hasil ini menunjukkan bahwa Qualcomm masih mampu melampaui ekspektasi pasar meskipun menghadapi tekanan di bisnis utamanya.
Namun, perhatian investor lebih tertuju pada proyeksi kinerja kuartal I tahun fiskal 2027. Qualcomm memperkirakan pendapatan berada pada kisaran US$10,4 miliar hingga US$11,2 miliar, dengan titik tengah US$10,8 miliar, lebih tinggi dibandingkan konsensus analis sebesar US$10,48 miliar.
Sementara itu, EPS disesuaikan diproyeksikan sebesar US$2,15 hingga US$2,35, dengan titik tengah US$2,25. Angka tersebut berada di bawah estimasi analis sekitar US$2,27.
Perbedaan antara proyeksi pendapatan dan laba ini menjadi salah satu perhatian pasar, terutama karena investor juga mempertimbangkan tekanan margin keuntungan dan melemahnya permintaan smartphone.
Saham QCOM akhirnya turun sekitar 7% dalam perdagangan setelah jam bursa. Penurunan ini terjadi meskipun Qualcomm mencatatkan hasil kuartalan yang lebih baik dari ekspektasi dan memberikan proyeksi pendapatan yang relatif kuat.
Penjualan Chip Smartphone Turun 26%, Biaya Memori Jadi Tekanan
Tekanan terbesar terhadap kinerja Qualcomm berasal dari bisnis chip smartphone. Pendapatan segmen handset turun 26% secara tahunan menjadi US$5,14 miliar, lebih rendah dibandingkan perkiraan analis Visible Alpha sebesar US$5,25 miliar.
Penurunan tersebut turut menyeret pendapatan segmen Qualcomm CDMA Technologies (QCT), yang mencakup bisnis chip perusahaan, turun sekitar 8% menjadi US$9,02 miliar.
Pelemahan ini terjadi ketika industri smartphone global menghadapi kenaikan biaya komponen, terutama chip memori dan penyimpanan. Permintaan memori yang meningkat untuk pembangunan pusat data AI turut memberikan tekanan pada pasokan komponen elektronik konsumen.
Menurut Counterpoint Research yang dikutip Reuters, pengiriman smartphone global pada kuartal September turun 20% dan mencapai level terendah dalam 14 tahun. Kenaikan biaya memori mendorong produsen perangkat menaikkan harga jual, sehingga menekan permintaan konsumen.
Qualcomm sendiri telah menaikkan harga chip pada September untuk merespons tekanan biaya tersebut. Namun, perusahaan masih menghadapi pelemahan penjualan smartphone, khususnya di tengah kondisi pasar yang belum pulih sepenuhnya.
CEO Qualcomm Cristiano Amon menyampaikan bahwa penjualan ponsel Android telah mencapai titik terendah dan mulai menunjukkan pemulihan bertahap, termasuk di China. Meski demikian, Qualcomm memperkirakan pasar smartphone secara keseluruhan akan cenderung stagnan pada 2027.
Selain kondisi industri, berkurangnya kontribusi Apple turut menjadi perhatian investor. Apple secara bertahap mengembangkan dan menggunakan chip modem buatannya sendiri, sehingga mengurangi ketergantungan terhadap teknologi Qualcomm.
Proyeksi Qualcomm untuk kuartal I tahun fiskal 2027 juga tidak memasukkan tambahan penjualan kepada Apple. Kondisi tersebut memperkuat kebutuhan perusahaan untuk memperluas sumber pendapatan di luar bisnis smartphone.
Dari sisi profitabilitas, Qualcomm memperkirakan margin laba kotor dasarnya kembali ke kisaran historis 48%-50% pada kuartal II tahun fiskal 2027, seiring mulai berlakunya kenaikan harga chip. Manfaat penuh dari penyesuaian harga tersebut diperkirakan baru terlihat pada paruh kedua tahun fiskal 2027.
Ekspansi AI Qualcomm Didukung Amazon dan Bisnis Data Center
Di tengah tekanan smartphone, Qualcomm terus mempercepat diversifikasi bisnis menuju pusat data AI, komputasi, otomotif, dan infrastruktur konektivitas. Perusahaan mencatat pendapatan pusat data sekitar US$650 juta pada kuartal IV tahun fiskal 2026, terutama berasal dari pekerjaan kustomisasi chip dan teknologi konektivitas.
Untuk kuartal I tahun fiskal 2027, Qualcomm kembali memperkirakan pendapatan pusat data sekitar US$650 juta, melampaui estimasi analis Visible Alpha sebesar US$539,1 juta.
Qualcomm juga menargetkan pendapatan pusat data sebesar US$5 miliar pada tahun fiskal 2027, dengan sasaran jangka panjang mencapai US$15 miliar per tahun pada tahun fiskal 2029.
Ekspansi tersebut didukung sejumlah kerja sama strategis dengan perusahaan teknologi besar.
Pada September, Qualcomm menandatangani kesepakatan yang memungkinkan Amazon (AMZN) membeli chip AI dan produk pusat data terkait senilai hingga US$60 miliar. Kesepakatan ini memperluas daftar pelanggan Qualcomm di bisnis AI, yang juga mencakup Microsoft (MSFT) dan Meta Platforms (META).
Sebagai bagian dari perjanjian tersebut, Qualcomm memberikan waran kepada Amazon yang dinilai sekitar US$1,8 miliar pada saat penandatanganan. Waran tersebut memungkinkan Amazon memperoleh hingga 25 juta saham Qualcomm apabila komitmen pembelian dan target pengeluaran tertentu terpenuhi.
Selain itu, Qualcomm menyatakan bahwa pendapatan dari dua program chip khusus bersama penyedia layanan cloud berskala besar akan mulai masuk pada kuartal berjalan. Peningkatan produksi akselerator AI perusahaan dijadwalkan berlangsung pada 2027.
Pertumbuhan bisnis pusat data ini menjadi bagian penting dari strategi Qualcomm untuk mengurangi ketergantungan pada smartphone. Namun, realisasi target pendapatan masih bergantung pada pelaksanaan kontrak, kapasitas pasokan, dan perkembangan permintaan infrastruktur AI.
Kerja Sama SpaceX dan Pertumbuhan Otomotif Jadi Katalis Baru
Selain AI, Qualcomm juga memperluas bisnis konektivitas melalui kesepakatan dengan SpaceX (SPCX) dan pertumbuhan segmen otomotif.
Pada Rabu, Qualcomm mengumumkan perjanjian 5G multi-tahun untuk menyediakan teknologi jaringan bagi SpaceX, yang sedang mengembangkan jaringan seluler Starlink di Amerika Serikat. Kesepakatan tersebut mencakup pasokan peralatan radio, unit baseband, dan perangkat lunak untuk mendukung pengembangan jaringan seluler yang direncanakan mulai beroperasi pada 2027.
Kerja sama ini berpotensi membuka sumber pendapatan baru bagi Qualcomm melalui penyediaan infrastruktur telekomunikasi dalam skala besar. Perusahaan diperkirakan akan memasok puluhan ribu unit perangkat selama pelaksanaan proyek tersebut.
Di sisi lain, bisnis otomotif Qualcomm mencatat pertumbuhan yang jauh lebih kuat dibandingkan segmen smartphone.
Pendapatan otomotif melonjak 89% secara tahunan menjadi US$1,99 miliar, melampaui perkiraan StreetAccount sebesar US$1,66 miliar. Pertumbuhan tersebut membantu mengimbangi sebagian tekanan dari penurunan penjualan chip handset.
Segmen Internet of Things (IoT) juga mencatat kenaikan pendapatan 4% menjadi US$1,88 miliar. Bisnis ini mencakup chip berdaya rendah, komponen kacamata pintar, chip laptop, serta teknologi infrastruktur seluler.
Sementara itu, Qualcomm Technology Licensing (QTL), yang mencakup pendapatan lisensi teknologi 5G dan kekayaan intelektual lainnya, membukukan pendapatan US$1,3 miliar, turun 7% secara tahunan.
Qualcomm juga telah memperbarui perjanjian lisensi dengan Apple (AAPL), Huawei, dan Transsion, yang mendukung keberlanjutan bisnis lisensinya.
Ke depan, perusahaan memperkirakan perolehan kontrak desain meningkat sekitar 70% secara tahunan pada tahun fiskal 2027. Qualcomm juga menargetkan pertumbuhan pendapatan bisnis non-smartphone sekitar 60% pada periode yang sama, sebagai bagian dari upaya menggantikan kontribusi pendapatan Apple.
Bagi investor, perkembangan tersebut menunjukkan adanya sumber pertumbuhan baru di luar smartphone. Namun, penurunan bisnis handset sebesar 26% masih menjadi tekanan utama dalam jangka pendek, sementara kontribusi AI, otomotif, dan konektivitas perlu terus dipantau melalui realisasi pendapatan pada kuartal-kuartal berikutnya.
Qualcomm Ekspansi ke AI, Pantau Saham QCOM
Saham Qualcomm tertekan akibat penurunan penjualan chip smartphone, tetapi perusahaan terus memperluas bisnis AI bersama Amazon dan konektivitas 5G dengan SpaceX. Pantau perkembangan saham QCOM melalui Nanovest dan ikuti kabar pasar terbaru lewat News & Artikel Tips!
Referensi +
- Reuters: Qualcomm shares slide as smartphone weakness clouds growth push
- CNBC: Qualcomm stock drops 7% on weak earnings forecast as memory shortage weighs on smartphone sales
- Yahoo Finance: Qualcomm tops Q4 estimates, but Q1 earnings outlook falls short






