Pergerakan saham SpaceX (SPCX) kembali menjadi perhatian investor setelah mencatat kenaikan lebih dari 3% dalam perdagangan overnight pada Minggu, 1 November 2026.
Kenaikan ini terjadi di tengah sejumlah perkembangan bisnis perusahaan milik Elon Musk, mulai dari rencana pembangunan pabrik chip melalui proyek Terafab hingga ekspansi pusat data untuk mendukung kebutuhan komputasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Selain itu, kabar mengenai pembicaraan ulang dengan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) turut menarik perhatian pasar. Kerja sama ini berpotensi menjadi langkah penting bagi SpaceX dalam mengamankan pasokan chip untuk mendukung ekspansi bisnis AI ke depannya.
Saham SpaceX Naik Lebih dari 3% dalam Perdagangan Overnight
Berdasarkan laporan Stocktwits, saham SpaceX sempat menguat lebih dari 3% dan diperdagangkan di kisaran US$139 dalam perdagangan overnight pada Minggu, 1 November 2026.
Kenaikan tersebut menjadi pemulihan sementara setelah saham SPCX mengalami tekanan pada perdagangan sebelumnya. Pada Jumat, 30 Oktober 2026, saham SpaceX ditutup turun sekitar 6,37% ke level US$134,72.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa sentimen pasar terhadap SpaceX masih dipengaruhi oleh berbagai perkembangan bisnis perusahaan, terutama ekspansi di sektor AI dan semikonduktor.
Meski begitu, kenaikan dalam perdagangan overnight belum tentu mencerminkan arah pergerakan saham pada sesi perdagangan reguler berikutnya.
Elon Musk Kembali Bahas Kerja Sama TSMC untuk Proyek Terafab
Salah satu kabar yang menjadi perhatian investor adalah perkembangan pembicaraan antara Elon Musk dan TSMC terkait proyek Terafab.
Mengutip laporan Stocktwits yang merujuk pada DigiTimes, pembicaraan tersebut dikabarkan kembali membahas sejumlah aspek kerja sama, mulai dari kendali operasional, investasi bersama, teknologi manufaktur, hingga kendala pengemasan dan pasokan komponen chip.
Sebelumnya, Musk sempat menegaskan bahwa Tesla dan SpaceX akan membangun sekaligus mengoperasikan fasilitas Terafab secara mandiri. Ia juga membuka kemungkinan bagi TSMC untuk menyewa sebagian kapasitas fasilitas tersebut.
Namun, CEO TSMC C.C. Wei memiliki pandangan berbeda. Ia menyatakan bahwa fasilitas manufaktur yang melibatkan TSMC harus tetap dioperasikan oleh perusahaan tersebut.
Perbedaan pandangan ini membuat struktur kerja sama Terafab masih menjadi perhatian pasar. Hingga berita ini ditulis, belum ada kesepakatan final yang diumumkan secara resmi oleh kedua perusahaan.
Bagi investor, perkembangan ini menarik karena keterlibatan TSMC berpotensi memberikan dukungan teknologi dan pengalaman manufaktur semikonduktor bagi proyek ambisius milik Musk.
Terafab Targetkan Produksi Chip Massal pada 2028
Terafab merupakan proyek pembangunan fasilitas manufaktur semikonduktor yang melibatkan SpaceX dan Tesla, dengan Intel sebagai salah satu mitra proyek.
Fasilitas yang direncanakan berlokasi di Texas, Amerika Serikat, ini dirancang untuk memproduksi chip berperforma tinggi guna memenuhi kebutuhan komputasi AI dan robotika.
Mengutip laporan Reuters pada 20 Oktober 2026, Musk menyampaikan bahwa Terafab menargetkan pembuatan chip uji pertama menggunakan teknologi SRAM pada Mei atau Juni 2027.
Sementara itu, produksi chip secara massal ditargetkan mulai pada kuartal III 2028. Fasilitas tersebut dirancang untuk mendukung kapasitas komputasi hingga satu terawatt per tahun.
Namun, target tersebut masih tergolong ambisius. Musk sendiri mengakui bahwa jadwal pembangunan Terafab memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi.
Salah satu tantangan utamanya adalah pengadaan peralatan manufaktur semikonduktor canggih, termasuk mesin litografi EUV yang diproduksi oleh perusahaan asal Belanda, ASML.
Jika berhasil direalisasikan, Terafab berpotensi membantu SpaceX dan Tesla mengurangi ketergantungan pada pemasok chip eksternal sekaligus mengamankan kebutuhan komputasi untuk pengembangan AI.
Elon Musk Sebut Efisiensi Capex SpaceX Masih Diremehkan
Selain perkembangan Terafab, pernyataan Musk mengenai belanja modal atau capital expenditure (capex) SpaceX juga menjadi perhatian investor.
Melalui platform X, Musk menyebut bahwa efisiensi capex perusahaan masih sangat diremehkan.
Pernyataan tersebut merespons sebuah proyeksi eksternal yang memperkirakan SpaceX dapat menghabiskan sekitar US$470 miliar dalam lima kuartal untuk mencapai kapasitas komputasi sebesar 13 gigawatt pada akhir 2027.
Namun, angka tersebut merupakan estimasi pihak eksternal dan bukan proyeksi resmi belanja modal dari manajemen SpaceX.
Sebagai gambaran, SpaceX memperkirakan pengeluaran capex pada kuartal IV 2026 berada di kisaran US$35 miliar hingga US$40 miliar. Angka ini menunjukkan besarnya investasi yang dibutuhkan perusahaan untuk memperluas infrastruktur AI.
Selain itu, SpaceX juga telah mengatur pembiayaan sekitar US$40 miliar melalui skema pembiayaan bersama entitas yang dikelola Apollo Global Management. Dana tersebut ditujukan untuk pengadaan GPU Nvidia generasi Vera Rubin dan perangkat pendukung komputasi lainnya.
Strategi ini memperlihatkan bahwa ekspansi AI tidak hanya membutuhkan pembangunan pusat data, tetapi juga investasi besar dalam perangkat keras, teknologi, dan infrastruktur pendukung.
Ekspansi Colossus 2 Targetkan 1,2 Juta Chip Nvidia Blackwell
Ekspansi infrastruktur AI SpaceX juga dilakukan melalui pusat komputasi Colossus 2.
Elon Musk menyampaikan bahwa fasilitas tersebut menargetkan sekitar 1,2 juta chip Nvidia Blackwell hingga akhir 2026.
Untuk mencapai target tersebut, SpaceX tengah mengembangkan sejumlah bangunan tambahan. Dua fasilitas bernama Gun Range dan Spam ditargetkan mulai beroperasi pada November dan Desember 2026.
Gun Range dirancang untuk mendukung proses pelatihan model AI, sedangkan Spam akan digunakan untuk menjalankan layanan AI setelah model selesai dilatih.
Penambahan kapasitas ini menjadi bagian dari strategi SpaceX dalam memperkuat infrastruktur komputasi untuk mendukung pengembangan teknologi AI, termasuk Grok.
Meski demikian, ekspansi pusat data dalam skala besar juga memiliki tantangan. Ketersediaan energi, sistem pendingin, jaringan, serta biaya operasional menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan perusahaan.
Bagaimana Prospek Saham SpaceX ke Depan?
Perkembangan bisnis SpaceX menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya berfokus pada industri antariksa, tetapi juga semakin memperluas bisnisnya ke sektor AI dan semikonduktor.
Investasi pada Terafab dan Colossus 2 menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk membangun ekosistem teknologi yang lebih terintegrasi, mulai dari produksi chip hingga pengembangan pusat data.
Di satu sisi, strategi ini membuka peluang pertumbuhan baru seiring meningkatnya kebutuhan komputasi AI secara global.
Namun, investor juga perlu memperhatikan sejumlah risiko, seperti tingginya kebutuhan belanja modal, ketergantungan pada pemasok peralatan semikonduktor, serta kemungkinan keterlambatan pembangunan fasilitas.
Selain itu, pembicaraan dengan TSMC masih belum menghasilkan kesepakatan final. Artinya, potensi manfaat dari kerja sama tersebut belum dapat dianggap sebagai kontribusi bisnis yang sudah terealisasi.
Ke depan, perkembangan Terafab, realisasi investasi AI, dan kemampuan SpaceX mengubah ekspansi infrastruktur menjadi pertumbuhan pendapatan akan menjadi sejumlah faktor penting yang perlu diperhatikan investor.
Disclaimer: Artikel ini bertujuan memberikan informasi dan edukasi, bukan merupakan rekomendasi untuk membeli atau menjual aset investasi. Setiap keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor.
SpaceX Makin Fokus AI dan Chip. Sudah Pantau SPCX?
Penasaran bagaimana perkembangan ini memengaruhi saham SPCX? Pantau pergerakannya melalui Nanovest dan ikuti kabar teknologi serta pasar terbaru lewat News & Artikel Tips.
Investasi saham mengandung risiko, termasuk volatilitas harga dan potensi kehilangan modal. Pelajari fundamental perusahaan dan sesuaikan keputusan investasi dengan profil risikomu.
Referensi +
- Stocktwits: SPCX Stock Jumps Overnight: Musk Reportedly Revives TSMC Terafab Talks — Says Capex Efficiency Is ‘Greatly Underestimated’






