Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mulai memunculkan pertanyaan baru mengenai keamanan blockchain. Salah satu pendiri Ethereum (ETH), Vitalik Buterin, menyoroti kemungkinan bahwa kemajuan AI dalam memecahkan persoalan matematika dapat melemahkan algoritma kriptografi yang selama ini digunakan untuk melindungi aset digital.
Peringatan tersebut muncul setelah peneliti Ethereum Foundation, Justin Drake, mengusulkan agar industri kripto mulai mempersiapkan langkah perlindungan terhadap potensi ancaman AI. Drake menilai perkembangan matematika berbantuan AI dapat mengubah asumsi keamanan sejumlah algoritma, bahkan sebelum komputer kuantum mampu melakukannya.
Namun, Buterin menegaskan bahwa risiko tersebut belum menjadi alasan bagi pengguna untuk segera memindahkan seluruh aset kripto mereka. Ia justru mengingatkan bahwa migrasi dompet yang dilakukan secara terburu-buru dapat menimbulkan risiko kehilangan dana.
Perdebatan ini memperlihatkan tantangan baru bagi industri blockchain dalam mempersiapkan keamanan jangka panjang, sekaligus membedakan risiko yang masih bersifat teoretis dari ancaman yang sudah terbukti.
Peneliti Ethereum Waspadai AI terhadap Kriptografi
Perdebatan bermula dari peringatan Justin Drake mengenai kemungkinan AI mempercepat penemuan metode matematika yang dapat melemahkan algoritma kriptografi.
Salah satu teknologi yang menjadi perhatian adalah Elliptic Curve Digital Signature Algorithm (ECDSA), yaitu algoritma tanda tangan digital yang digunakan untuk memverifikasi kepemilikan dan otorisasi transaksi pada banyak sistem blockchain.
Keamanan ECDSA bergantung pada persoalan matematika yang selama ini dianggap sangat sulit diselesaikan dengan kemampuan komputasi konvensional.
Drake mengkhawatirkan bahwa AI yang semakin canggih dalam penelitian matematika dapat menemukan metode baru untuk menyelesaikan persoalan tersebut lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.
Dalam skenario terburuk yang ia kemukakan, ancaman terhadap ECDSA berpotensi muncul dalam hitungan bulan, bukan tahun. Namun, perkiraan tersebut merupakan peringatan mengenai kemungkinan risiko, bukan bukti bahwa ECDSA telah berhasil ditembus.
Kekhawatiran Drake meningkat setelah OpenAI dilaporkan merilis ratusan temuan matematika baru pada 6 Oktober 2026, mencakup bidang aljabar, ilmu komputer teoretis, dan logika matematika.
Sumber berita juga menyoroti laporan penggunaan ribuan agen AI untuk membantu penelitian persoalan matematika kompleks. Perkembangan tersebut menjadi dasar kekhawatiran bahwa AI dapat mempercepat penemuan pendekatan yang sebelumnya sulit dijangkau peneliti manusia.
Meski demikian, keberhasilan AI dalam penelitian matematika tidak secara langsung membuktikan adanya kelemahan pada algoritma kriptografi blockchain.
Vitalik Ingatkan Risiko Migrasi Dompet Terburu-buru
Menanggapi peringatan Drake, Vitalik Buterin menyatakan bahwa industri kripto perlu memperhatikan perkembangan matematika berbantuan AI secara serius.
Namun, ia mengambil pendekatan yang lebih berhati-hati terkait tindakan yang perlu dilakukan pengguna.
Drake sebelumnya mengusulkan migrasi aset secara bertahap menuju alamat baru yang belum pernah mengekspos kunci publiknya. Langkah ini ditujukan untuk mengurangi potensi risiko apabila suatu saat ditemukan metode yang dapat menyerang algoritma tanda tangan digital.
Dalam sistem tertentu, kunci publik dapat terekspos ketika pengguna melakukan transaksi. Karena itu, alamat yang belum pernah digunakan untuk mengirim transaksi dapat memiliki karakteristik paparan kunci yang berbeda dibandingkan alamat yang telah aktif digunakan.
Buterin menilai penggunaan alamat semacam itu dapat menjadi tindakan pencegahan apabila mudah dilakukan. Namun, ia tidak menyarankan pengguna melakukan migrasi besar-besaran secara mendadak.
Proses pemindahan aset memiliki risiko tersendiri, termasuk kesalahan alamat tujuan, pengelolaan kunci, dan kegagalan operasional yang dapat menyebabkan kehilangan dana.
Untuk dompet multisignature atau multisig, Buterin juga membahas pendekatan pengelolaan kunci yang lebih ketat. Salah satu rekomendasinya adalah mengganti kunci setiap penanda tangan setelah setiap operasi, dengan proses pengumpulan tanda tangan dilakukan di luar blockchain atau offchain.
Pendekatan tersebut merupakan bagian dari diskusi teknis mengenai keamanan, bukan instruksi umum agar seluruh pengguna segera mengubah konfigurasi dompet mereka.
Ethereum Pertimbangkan Kriptografi Berbasis Hash
Kekhawatiran Buterin tidak terbatas pada ECDSA. Ia juga menyoroti kemungkinan AI menemukan kelemahan matematika pada sistem kriptografi berbasis lattice atau kisi, yang selama ini banyak dibahas sebagai bagian dari pengembangan keamanan tahan komputasi kuantum.
Salah satu contohnya adalah ML-DSA, skema tanda tangan digital berbasis lattice yang dirancang untuk menghadapi ancaman komputer kuantum. Buterin memperingatkan bahwa perkembangan matematika berbantuan AI berpotensi memengaruhi asumsi keamanan konkret dari sistem tersebut dalam dua tahun mendatang.
Pandangan ini menjadi salah satu alasan arah pengembangan Ethereum yang lebih sederhana atau lean Ethereum mempertimbangkan penggunaan kriptografi berbasis hash secara lebih luas.
Pendekatan hash-only bertujuan mengurangi ketergantungan pada struktur matematika tertentu yang berpotensi memiliki kelemahan apabila ditemukan metode pemecahan baru.
Buterin menyoroti skema tanda tangan berbasis hash seperti WOTS dan SPHINCS sebagai alternatif yang dapat dipertimbangkan ketika sesuai dengan kebutuhan teknis.
Namun, kriptografi berbasis hash tidak dapat langsung menggantikan seluruh fungsi kriptografi kunci publik. Teknologi tersebut juga digunakan dalam komunikasi aman, situs web, VPN, dan berbagai layanan keuangan tradisional. Karena itu, perubahan sistem keamanan membutuhkan evaluasi terhadap fungsi, efisiensi, dan kebutuhan masing-masing aplikasi.
Diskusi ini menunjukkan bahwa persiapan menghadapi risiko AI tidak hanya berkaitan dengan keamanan Ethereum, tetapi juga dapat memengaruhi arah pengembangan infrastruktur digital secara lebih luas.
Pakar Coinbase Nilai Ancaman AI Belum Terbukti
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap keamanan kripto, sejumlah pakar menilai peringatan tersebut perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat.
Yehuda Lindell, kepala kriptografi Coinbase (COIN), mempertanyakan dasar teknis dari perkiraan bahwa AI dapat segera melemahkan algoritma kurva eliptik.
Menurut pandangannya, belum terdapat bukti bahwa asumsi matematika yang mendukung keamanan kriptografi kurva eliptik berada di ambang kegagalan.
Ia juga menilai pencapaian terbaru AI dalam penelitian matematika belum menunjukkan bahwa algoritma ECDSA dapat ditembus.
Jika suatu saat ditemukan kelemahan mendasar pada kriptografi kurva eliptik, dampaknya berpotensi meluas ke berbagai sistem digital, termasuk sertifikat keamanan, perangkat lunak perbankan, dan layanan lain yang mengandalkan kriptografi kunci publik.
Perbedaan pandangan tersebut menjadi bagian penting dari perdebatan saat ini. Drake menekankan perlunya persiapan dini terhadap skenario berisiko tinggi, Buterin mendukung tindakan pencegahan yang terukur, sementara Lindell mempertanyakan apakah bukti yang tersedia sudah cukup untuk mendukung tingkat kekhawatiran tersebut.
Bagi pengguna dan investor kripto, perkembangan ini menunjukkan bahwa keamanan blockchain tetap menjadi bidang yang terus berkembang seiring kemajuan teknologi AI.
Namun, belum ada bukti dalam laporan tersebut bahwa AI telah berhasil membobol ECDSA atau menyebabkan kegagalan keamanan dompet Ethereum secara luas.
Karena itu, perkembangan penelitian kriptografi, pembaruan keamanan jaringan, dan rekomendasi resmi penyedia dompet menjadi informasi yang lebih relevan untuk dipantau dibandingkan mengambil keputusan berdasarkan skenario terburuk yang belum terbukti.
Baca berita lainnya terkait perkembangan Ethereum di halaman ini.
AI Makin Canggih, Bagaimana Masa Depan Keamanan Kripto?
Perkembangan AI membuka peluang sekaligus tantangan baru bagi teknologi blockchain. Pantau Ethereum (ETH) dan aset kripto lainnya melalui Nanovest, serta ikuti berita dan insight terbaru seputar pasar aset digital.
Investasi memiliki risiko. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi. Nanovest terdaftar dan diawasi oleh OJK.
Referensi +
- Bankless: Vitalik Flags AI Risk to Crypto, Warns Against Rushed Wallet Moves
- CoinTelegraph: Vitalik Buterin backs crypto ‘bunker mode’ amid rapid AI math advances
- CryptoPotato: Vitalik Buterin: AI Risk Doesn’t Justify Rushed Wallet Moves






