Pergerakan pasar kripto kembali berada di bawah tekanan pada Rabu, 7 Oktober 2026. Harga Bitcoin turun sekitar 1,5% dan sempat jatuh ke sekitar US$83.840, menembus level US$84.000 yang sebelumnya dipandang sebagai batas penting oleh analis.
Tekanan terhadap aset kripto terjadi ketika pasar global menghadapi meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Iran meningkatkan serangan terhadap kapal tanker. Kondisi tersebut mendorong harga minyak, dolar AS, dan imbal hasil Treasury bergerak lebih tinggi.
Bitcoin Tertekan hingga di Bawah US$84.000
Bitcoin sebelumnya masih diperdagangkan di sekitar US$86.600 pada Selasa. Namun, Penurunan tajam pada awal perdagangan Rabu membawa harga BTC ke level terendah US$83.840
Menurut FxPro, level US$84.000 menjadi salah satu area penting untuk menentukan apakah tekanan jual mulai mengambil alih pasar. Bitcoin yang kembali bertahan di bawah level tersebut dapat menunjukkan semakin kuatnya posisi bearish.
Saat ini, perhatian investor tertuju pada level US$83.000. FxPro memperkirakan jika Bitcoin mengalami penurunan berkelanjutan di bawah level tersebut, harga BTC berpotensi bergerak lebih cepat menuju US$80.000.
Tekanan juga terlihat pada aset kripto lainnya. Dogecoin menjadi salah satu yang mengalami penurunan terbesar di antara aset kripto utama, yakni sekitar 5% ke US0,09. Ethereumturun 3,5% menjadi sekitar US$2.610, sedangkan XRP melemah hampir 3%.
Harga Minyak Naik akibat Serangan Tanker Iran
Pergerakan Bitcoin terjadi bersamaan dengan kenaikan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Harga minyak Brent naik hampir 1% menjadi sekitar US$101,50 per barel setelah Iran meningkatkan serangan terhadap tanker dalam beberapa hari terakhir. Selat Hormuz menjadi perhatian penting karena merupakan salah satu jalur strategis dalam perdagangan minyak global.
Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Jika harga energi terus naik, pasar dapat kembali memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Dampaknya tidak hanya terasa di pasar komoditas. Dolar AS menguat terhadap seluruh mata uang negara-negara G10, sementara imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik tiga basis poin menjadi 5,31%.
Pasar Menunggu Sinyal dari The Fed
Selain perkembangan geopolitik, investor juga menunggu risalah pertemuan Federal Reserve pada September yang dijadwalkan dirilis pada Rabu.
Pada pertemuan tersebut, The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Namun, data ketenagakerjaan yang lebih lemah membuat ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga berikutnya mulai berkurang.
Analis LVRG Research Dan Khus mengatakan pasar kini akan memperhatikan apakah risalah tersebut menunjukkan sikap The Fed yang lebih sabar atau masih membuka peluang untuk satu kali kenaikan suku bunga lagi sebelum akhir tahun.
Bagi Bitcoin, arah suku bunga menjadi penting karena perubahan imbal hasil obligasi dan dolar AS dapat memengaruhi minat investor terhadap aset berisiko, termasuk kripto.
Saham dan Aset Berisiko Ikut Tertekan
Tekanan pasar tidak hanya terjadi pada Bitcoin. Saham Asia juga bergerak turun meskipun indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 sebelumnya mencatat rekor penutupan di Wall Street.
Indeks MSCI Asia Pacific turun sekitar 0,6%, sementara saham teknologi di Korea Selatan dan Hong Kong ikut melemah. Futures saham AS yang sebelumnya menguat juga berbalik turun.
Situasi ini menunjukkan bagaimana kenaikan harga energi, penguatan dolar, dan imbal hasil Treasury dapat menjadi kombinasi yang menekan aset berisiko. Investor kini perlu mencermati perkembangan geopolitik, kebijakan The Fed, serta level teknikal Bitcoin untuk melihat arah pasar selanjutnya.
Tekanan Makro Kembali Menguji Bitcoin
Harga minyak, dolar AS, dan yield Treasury bergerak naik saat Bitcoin turun di bawah US$84.000. Pantau BTC dan perkembangan pasar berikutnya melalui Nanovest.
Investasi memiliki risiko. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi. Nanovest terdaftar dan diawasi oleh OJK.






