Apa itu investor? Investor adalah orang atau pihak yang menanamkan dana pada suatu aset atau instrumen investasi dengan harapan mendapatkan keuntungan atau hasil di masa depan.
Investasi dapat dilakukan pada berbagai aset, mulai dari saham, obligasi, reksa dana, emas, properti, hingga aset lainnya. Dalam konteks pasar modal, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjelaskan bahwa orang yang melakukan kegiatan investasi disebut investor atau pemodal.
Menjadi investor tidak selalu berarti harus memiliki modal besar. Seseorang dapat mulai berinvestasi dengan menyesuaikan jumlah dana, tujuan investasi, jangka waktu, dan kemampuan dalam menghadapi risiko.
Apa Itu Investor?
Investor adalah individu atau pihak yang menempatkan dana pada suatu aset atau instrumen investasi dengan tujuan memperoleh hasil di masa mendatang.
Contohnya, seseorang membeli saham perusahaan karena berharap mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga saham atau pembagian dividen. Orang tersebut dapat disebut sebagai investor saham.
Begitu juga seseorang yang membeli emas dengan tujuan menyimpan nilai kekayaan dalam jangka panjang. Ia dapat disebut sebagai investor emas.
Dalam pasar modal, investor dapat membeli berbagai produk seperti saham, obligasi, reksa dana, sukuk, dan instrumen lainnya. OJK menjelaskan bahwa pasar modal mempertemukan pihak yang membutuhkan dana jangka panjang dengan pihak yang membutuhkan sarana investasi pada produk keuangan.
Investor dan Investasi, Apa Bedanya?
Investor adalah pihak yang melakukan investasi, sedangkan investasi adalah aktivitas atau proses menempatkan dana pada aset tertentu untuk memperoleh hasil di masa depan.
Contohnya:
Rina membeli saham BBCA menggunakan sebagian uangnya dengan tujuan mendapatkan keuntungan dari pertumbuhan nilai saham dan dividen.
Dalam contoh tersebut, Rina adalah investor, sedangkan pembelian saham merupakan aktivitas investasinya.
Apa Perbedaan Investor dan Trader?
Investor dan trader sama-sama melakukan transaksi pada instrumen keuangan, tetapi biasanya memiliki pendekatan yang berbeda.
| Aspek | Investor | Trader |
| Fokus | Pertumbuhan nilai aset dalam jangka menengah hingga panjang | Memanfaatkan pergerakan harga |
| Jangka waktu | Cenderung lebih panjang | Cenderung lebih pendek |
| Analisis | Fundamental, bisnis, kinerja keuangan | Pergerakan harga, volume, dan analisis teknikal |
| Tujuan | Pertumbuhan aset dan/atau pendapatan investasi | Memanfaatkan perubahan harga |
Perbedaan tersebut tidak berarti setiap investor harus memegang aset dalam waktu tertentu atau setiap trader selalu melakukan transaksi harian. Gaya setiap pelaku pasar dapat berbeda.
Baca juga: Panduan Jenis-Jenis Investasi, Risiko: Saham AS, Emas, hingga Kripto
Jenis-Jenis Investor
Investor dapat dikelompokkan berdasarkan karakteristik, tujuan, cara mengambil keputusan, maupun bentuk pihak yang melakukan investasi.
1. Investor Individu
Investor individu adalah orang perseorangan yang melakukan investasi menggunakan dana miliknya sendiri.
Contohnya adalah seseorang yang membeli saham, reksa dana, obligasi, atau emas untuk membangun aset dalam jangka panjang.
Jenis investor ini merupakan kategori yang paling umum ditemukan dalam edukasi investasi untuk masyarakat.
2. Investor Konservatif
Investor konservatif adalah investor yang memiliki toleransi risiko relatif rendah.
Investor dengan profil ini biasanya lebih mengutamakan menjaga nilai modal dan cenderung memilih instrumen dengan tingkat risiko yang lebih rendah.
OJK menjelaskan bahwa investor konservatif pada umumnya lebih menghindari risiko dan mengutamakan keamanan modal.
Contoh instrumen yang dapat dipertimbangkan oleh investor dengan profil risiko konservatif antara lain deposito, obligasi pemerintah, atau reksa dana pasar uang, sesuai tujuan dan kondisi masing-masing.
3. Investor Moderat
Investor moderat memiliki toleransi risiko di tingkat menengah.
Investor dengan profil ini biasanya masih memperhatikan keamanan modal, tetapi bersedia mengambil risiko lebih tinggi untuk mendapatkan potensi imbal hasil yang lebih besar.
OJK menjelaskan bahwa investor moderat masih dapat menerima risiko dalam batas tertentu dan berusaha mencari keseimbangan antara risiko dan imbal hasil.
4. Investor Agresif
Investor agresif memiliki toleransi risiko yang relatif tinggi.
Investor dengan profil ini biasanya bersedia menghadapi fluktuasi nilai investasi yang lebih besar untuk mendapatkan potensi imbal hasil yang lebih tinggi.
Namun, agresif bukan berarti asal mengambil risiko. Investor tetap perlu memahami instrumen yang dibeli dan kemungkinan kerugiannya.
5. Investor Intuitif
Investor intuitif adalah istilah yang dapat digunakan untuk menggambarkan investor yang banyak mengandalkan intuisi atau pengalaman pribadi ketika mengambil keputusan investasi.
Misalnya, investor membeli saham karena memiliki keyakinan terhadap perkembangan bisnis perusahaan berdasarkan pengamatan dan pengalamannya.
Namun, keputusan investasi sebaiknya tidak hanya berdasarkan intuisi. Data keuangan, kondisi bisnis, valuasi, dan risiko tetap perlu diperhatikan.
6. Angel Investor
Angel investor adalah individu yang menyediakan modal kepada perusahaan rintisan atau bisnis yang sedang berkembang.
Selain memberikan dana, angel investor terkadang juga memberikan pengalaman, jaringan, atau pengetahuan bisnis kepada perusahaan yang didanainya.
Jenis investor ini berbeda dengan investor saham ritel karena investasinya dapat dilakukan secara langsung ke perusahaan, terutama perusahaan rintisan.
Tugas Investor

Investor tidak memiliki tugas seperti karyawan yang bekerja untuk perusahaan. Namun, seorang investor memiliki beberapa peran dan tanggung jawab dalam aktivitas investasinya.
Menentukan Tujuan Investasi
Investor perlu menentukan tujuan sebelum memilih instrumen investasi.
Contohnya:
- menyiapkan dana pensiun;
- membeli rumah;
- menyiapkan biaya pendidikan;
- membangun dana jangka panjang; atau
- mengembangkan aset.
Tujuan tersebut akan memengaruhi pilihan instrumen dan jangka waktu investasi.
Memilih Instrumen Investasi
Investor perlu menentukan aset yang sesuai dengan tujuan dan profil risikonya.
OJK menyarankan investor mengenali profil investasinya, memilih produk sesuai kebutuhan, serta memahami risiko produk sebelum berinvestasi.
Menganalisis Investasi
Investor perlu mempelajari aset sebelum membeli.
Untuk saham, misalnya, investor dapat melihat pendapatan, laba, utang, arus kas, prospek industri, hingga valuasi perusahaan.
Untuk produk lainnya, aspek yang diperhatikan tentu dapat berbeda.
Mengelola Risiko
Setiap investasi memiliki risiko.
Investor perlu memahami kemungkinan penurunan nilai aset dan menyesuaikan jumlah dana yang diinvestasikan dengan kemampuan finansialnya.
Memantau Portofolio
Setelah melakukan investasi, investor tetap perlu memantau perkembangan aset dan meninjau kembali apakah investasi tersebut masih sesuai dengan tujuan awal.
Keuntungan Investasi
Investasi dilakukan dengan harapan memperoleh hasil di masa depan. Namun, hasil investasi tidak selalu positif dan tidak ada investasi yang bebas risiko.
Mendapat Potensi Capital Gain
Capital gain adalah keuntungan yang diperoleh ketika aset dijual dengan harga lebih tinggi daripada harga pembeliannya.
Contohnya, investor membeli saham seharga Rp1.000 per saham kemudian menjualnya pada harga Rp1.200. Selisih Rp200 tersebut merupakan capital gain sebelum memperhitungkan biaya transaksi dan pajak yang berlaku.
Potensi Mendapatkan Dividen
Investor saham dapat memperoleh dividen apabila perusahaan membagikan sebagian laba kepada pemegang saham.
Namun, pembagian dividen bukan sesuatu yang otomatis diberikan setiap tahun. Kebijakan dividen bergantung pada keputusan perusahaan dan kondisi yang berlaku.
Membantu Capai Tujuan Keuanganmu
Investasi dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk mengembangkan aset dalam jangka panjang.
Dengan investasi yang dilakukan secara terencana, investor dapat mengalokasikan sebagian dana untuk tujuan finansial tertentu.
Bisa Diversifikasi Aset
Investor dapat menempatkan dana pada beberapa jenis aset untuk mengurangi ketergantungan pada satu instrumen.
Misalnya, seseorang memiliki kombinasi saham, obligasi, reksa dana, dan emas sesuai dengan tujuan serta profil risikonya.
Diversifikasi tidak menghilangkan risiko investasi, tetapi dapat membantu mengelola konsentrasi risiko dalam portofolio.
Risiko Investasi
Selain keuntungan, investor juga perlu memahami risiko yang mungkin terjadi.
Risiko Penurunan Nilai
Harga atau nilai suatu aset dapat turun sehingga investor mengalami kerugian jika menjualnya pada harga yang lebih rendah.
Contohnya, saham yang dibeli Rp2.000 per lembar dapat turun menjadi Rp1.500.
Risiko Pasar
Perubahan kondisi ekonomi, suku bunga, sentimen pasar, kondisi industri, atau faktor lainnya dapat memengaruhi harga aset.
Pada saham, misalnya, harga bergerak berdasarkan permintaan dan penawaran di pasar.
Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas terjadi ketika aset sulit dijual dengan cepat pada harga yang diharapkan.
Karena itu, investor perlu memahami tingkat likuiditas instrumen sebelum berinvestasi.
Risiko Penipuan Investasi
Investor juga perlu berhati-hati terhadap penawaran investasi yang tidak masuk akal.
OJK mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan legalitas pihak yang menawarkan investasi, memahami regulatornya, serta membaca ketentuan mengenai manfaat, biaya, dan risiko produk.
Penawaran keuntungan yang sangat tinggi atau bahkan dijamin juga menjadi salah satu karakteristik yang perlu diwaspadai dalam investasi ilegal.
Baca juga: Investasi Digital: Pengertian, Jenis, Keuntungan, dan Risikonya
Cara Menjadi Investor yang Tepat

Menjadi investor sebenarnya tidak harus dimulai dengan modal besar. Yang lebih penting adalah memahami tujuan, instrumen, dan risiko sebelum menempatkan dana.
1. Tentukan Tujuan Investasi
Tentukan terlebih dahulu untuk apa dana tersebut diinvestasikan.
Tujuan jangka panjang tentu dapat membutuhkan strategi yang berbeda dengan kebutuhan dana dalam waktu dekat.
2. Kenali Profil Risiko
Profil risiko menunjukkan seberapa besar risiko yang mampu diterima investor.
Secara umum, profil risiko sering dibagi menjadi konservatif, moderat, dan agresif. OJK juga menggunakan pembagian tersebut dalam edukasi mengenai profil risiko investor.
3. Pilih Instrumen Investasi
Setelah mengetahui tujuan dan profil risiko, pilih instrumen yang sesuai.
Beberapa contoh instrumen investasi antara lain:
- saham;
- obligasi;
- reksa dana;
- emas;
- deposito;
- sukuk; dan
- aset lainnya.
4. Gunakan Platform atau Lembaga yang Legal
Pastikan perusahaan yang menawarkan produk investasi memiliki izin atau legalitas yang sesuai.
BEI juga mengingatkan investor untuk memilih pihak yang memperdagangkan produk investasi dan telah memperoleh izin atau lisensi dari regulator.
Baca juga: 10+ Aplikasi Investasi Terbaik dan Terpercaya Resmi Terdaftar OJK & Bappebti
5. Mulai dengan Dana yang Sesuai Kemampuan
Tidak perlu memaksakan seluruh uang yang dimiliki untuk investasi.
Gunakan dana yang memang dialokasikan untuk investasi setelah kebutuhan utama dan dana darurat diperhitungkan.
6. Pelajari Investasi Secara Bertahap
Investor pemula tidak harus langsung memahami seluruh instrumen investasi.
Mulailah dengan memahami satu instrumen terlebih dahulu, kemudian pelajari cara kerja, potensi keuntungan, risiko, biaya, dan cara transaksinya.
7. Evaluasi Investasi Secara Berkala
Setelah berinvestasi, evaluasi portofolio secara berkala.
Perubahan tujuan keuangan, kondisi ekonomi, atau kemampuan finansial dapat menjadi alasan untuk meninjau kembali strategi investasi.
Baca juga: 7 Cara Investasi Saham dengan Modal Rp100 ribu
Tips Menjadi Investor Pemula
Jika baru mulai berinvestasi, beberapa hal berikut dapat membantu:
- Jangan berinvestasi hanya karena ikut tren. Pelajari aset yang dibeli dan pahami alasan memilihnya.
- Jangan menggunakan uang untuk kebutuhan sehari-hari. Investasikan dana yang memang sudah dialokasikan untuk tujuan investasi.
- Jangan percaya keuntungan yang pasti. Setiap investasi memiliki risiko, dan potensi imbal hasil yang lebih tinggi biasanya juga disertai risiko yang lebih besar.
- Periksa legalitas platform atau perusahaan. Pastikan pihak yang menawarkan produk memiliki izin yang sesuai.
- Baca informasi produk sebelum membeli. Pahami manfaat, biaya, mekanisme, dan risikonya. OJK juga menekankan pentingnya memahami informasi tersebut sebelum berinvestasi.
Investasi untuk Investor Pemula
Investor dapat memilih berbagai instrumen sesuai tujuan dan profil risikonya.
Salah satu pilihan adalah saham, baik saham Indonesia maupun saham Amerika. Dengan diversifikasi ke berbagai pasar, investor dapat memiliki akses ke perusahaan dari sektor dan wilayah yang berbeda.
Nanovest menyediakan akses investasi saham Amerika, emas, hingga kripto mulai dari Rp5.000, sehingga investor dapat mulai mengenal investasi saham global dengan nominal yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
Investasi di Berbagai Aset dalam Satu Aplikasi
Akses saham Amerika, emas, dan kripto melalui Nanovest.
Kesimpulan
Investor adalah orang atau pihak yang menanamkan dana pada aset atau instrumen investasi dengan tujuan memperoleh hasil di masa depan. Investor dapat berinvestasi pada saham, obligasi, reksa dana, emas, properti, dan berbagai instrumen lainnya.
Jenis investor dapat dibedakan berdasarkan profil risiko, seperti konservatif, moderat, dan agresif, maupun berdasarkan bentuk dan perannya, seperti investor individu dan angel investor.
Menjadi investor tidak hanya soal membeli aset. Investor juga perlu menentukan tujuan, memahami profil risiko, memilih instrumen yang sesuai, memeriksa legalitas, melakukan analisis, dan mengelola risiko.
Dengan memahami dasar-dasar tersebut, seseorang dapat memulai investasi secara lebih terencana dan tidak sekadar mengikuti tren.
FAQ
Referensi +
- Tips Investasi Secara Aman - OJK






