Wall Street mengawali pekan dengan tekanan setelah kenaikan harga minyak kembali memicu kekhawatiran inflasi. Di saat yang sama, imbal hasil Treasury AS terus naik dan membuat investor kembali mempertimbangkan risiko suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.
Tekanan sudah terlihat sejak perdagangan futures Senin pagi. Dow futures turun sekitar 0,5%, S&P 500 futures melemah 0,5%, sementara Nasdaq-100 futures sempat turun 1% ketika lonjakan minyak dan yield Treasury membebani sentimen pasar.
Tekanan berlanjut hingga penutupan. Dow Jones Industrial Average turun 347,11 poin atau 0,7% ke 51.481,51. S&P 500 melemah 0,8% ke 7.683,69, sementara Nasdaq Composite turun 0,9% ke 26.820,38.
Pergerakan ini terjadi setelah Wall Street sebelumnya mencatat pekan yang positif, terutama berkat reli saham teknologi. Meta Platforms (META) melonjak hampir 13% sepanjang pekan sebelumnya, Microsoft (MSFT) naik lebih dari 4%, sedangkan Apple (AAPL) dan Nvidia (NVDA) masing-masing menguat lebih dari 1%.
Harga Minyak Melonjak di Tengah Ketegangan AS-Iran
Salah satu pemicu tekanan pasar datang dari sektor energi.
Pada perdagangan Senin pagi, Brent crude sempat melonjak lebih dari 4% ke US$108,68 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) bergerak ke sekitar US$96,30 per barel.
Lonjakan tersebut terjadi setelah Presiden Donald Trump menolak proposal Iran yang antara lain akan membuka kembali Selat Hormuz selama tujuh hari. Jalur pengiriman energi tersebut masih menjadi salah satu fokus utama pasar karena gangguan pasokan berpotensi memengaruhi harga minyak global.
Namun, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran diperkirakan kembali berlangsung pekan ini. Perkembangan tersebut membuat harga minyak tetap sensitif terhadap setiap perubahan dalam negosiasi AS-Iran dan status Selat Hormuz.
Bagi investor, kenaikan harga minyak bukan hanya soal sektor energi. Jika harga minyak bertahan tinggi, biaya transportasi dan produksi dapat ikut meningkat sehingga berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi global.
Inilah yang membuat pasar saham, obligasi, dan energi bergerak saling terkait. Semakin lama harga minyak berada pada level tinggi, semakin besar perhatian pasar terhadap kemungkinan tekanan inflasi bertahan dan memengaruhi kebijakan moneter.
Yield Treasury Tembus 5,2%
Tekanan terhadap Wall Street semakin besar ketika yield Treasury AS melanjutkan kenaikannya.
Yield Treasury 10 tahun menembus 5,2%, level yang terakhir kali terlihat pada 2007. Sementara itu, yield obligasi 30 tahun melewati 5,5% dan bergerak di sekitar level tertingginya dalam lebih dari dua dekade.
Kenaikan yield juga terjadi pada tenor pendek. Yield Treasury 2 tahun telah meningkat sekitar 17 basis poin sepanjang pekan sebelumnya.
Pergerakan tenor pendek menjadi penting karena bagian kurva tersebut lebih sensitif terhadap ekspektasi kebijakan bank sentral. Ed Yardeni dari Yardeni Research menilai kenaikan cepat yield obligasi pemerintah tenor dua tahun di berbagai negara menunjukkan pasar mulai mempertimbangkan respons bank sentral terhadap dampak inflasi dari harga minyak yang bertahan tinggi.
Pada saat yang sama, suku bunga yang lebih tinggi dapat memperbesar biaya pendanaan pemerintah dan perusahaan. Bagi pasar saham, kenaikan yield juga meningkatkan daya tarik relatif obligasi sekaligus menaikkan tingkat diskonto terhadap laba perusahaan di masa depan.
Tekanan ini tidak hanya terlihat di Wall Street. KOSPI Korea Selatan turun 2,7%, Nikkei 225 Jepang melemah 0,73%, dan CSI 300 China turun 2,22% pada Senin. Sebaliknya, pasar Eropa relatif lebih kuat, dengan CAC 40 Prancis naik 0,37% dan FTSE 100 Inggris menguat 0,46%.
Tech Rally Kini Berhadapan dengan Tekanan Makro
Pelemahan Wall Street kali ini datang setelah pasar baru saja mencatat pekan yang cukup kuat.
Saham teknologi menjadi salah satu pendorong utama. Meta Platforms melonjak hampir 13% sepanjang pekan sebelumnya, sementara Microsoft naik lebih dari 4%. Saham Apple dan Nvidia juga masing-masing menguat lebih dari 1%.
Namun, kenaikan yield membuat lingkungan pasar berubah bagi saham growth dan teknologi. Ketika tingkat bebas risiko meningkat, valuasi perusahaan yang banyak bergantung pada pertumbuhan laba di masa depan dapat menghadapi tekanan lebih besar.
Dengan demikian, investor kini menghadapi dua narasi yang bergerak bersamaan. Di satu sisi, perkembangan AI dan pertumbuhan perusahaan teknologi masih menjadi katalis bagi saham. Di sisi lain, minyak yang mahal dan yield Treasury di atas 5% kembali membuat kondisi makro menjadi faktor penting dalam menentukan valuasi.
Tekanan serupa juga terlihat pada aset lain yang sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga. Kombinasi kenaikan yield, harga minyak, dan penguatan kekhawatiran inflasi membuat investor kembali menilai posisi mereka menjelang serangkaian data ekonomi AS.
PCE dan Jobs Report Jadi Fokus Berikutnya
Setelah pergerakan minyak dan Treasury menjadi perhatian utama di awal pekan, investor kini mengalihkan fokus ke sejumlah data ekonomi AS.
Pada Rabu, pasar akan mencermati Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index untuk Agustus. PCE merupakan salah satu indikator inflasi utama yang digunakan Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan moneternya.
Setelah itu, data manufaktur AS dijadwalkan rilis pada Kamis, disusul laporan pekerjaan September pada Jumat.
Rangkaian data tersebut datang pada saat pasar sedang mencoba menentukan apakah kenaikan harga energi akan memperpanjang tekanan inflasi. PCE akan memberikan gambaran terbaru mengenai pergerakan harga konsumen, sementara data manufaktur dan tenaga kerja dapat menunjukkan seberapa kuat ekonomi AS bertahan di tengah tingkat suku bunga yang tinggi.
Interaksi ketiga faktor tersebut menjadi penting. Inflasi yang tetap tinggi bersamaan dengan pasar tenaga kerja yang kuat dapat mempertahankan tekanan pada yield, sedangkan tanda perlambatan ekonomi dapat mengubah kembali ekspektasi terhadap jalur kebijakan The Fed.
Untuk Wall Street, perhatian pekan ini karena itu tidak hanya tertuju pada apakah harga minyak kembali turun. Investor juga akan mencermati apakah data ekonomi mendukung atau justru meredakan kekhawatiran bahwa tekanan energi dapat membuat kondisi suku bunga tetap ketat lebih lama.
Dengan yield Treasury 10 tahun sudah berada di atas 5,2%, setiap perubahan pada harga minyak, data inflasi, dan pasar tenaga kerja berpotensi kembali memengaruhi valuasi saham. Perkembangan AS-Iran dan Selat Hormuz juga tetap menjadi katalis yang perlu diperhatikan karena dampaknya terhadap pasokan energi global.
Minyak & Yield Naik, Pantau Wall Street
Yield Treasury menembus 5,2% saat harga minyak kembali melonjak. Pantau saham AS dan berbagai peluang pasar melalui Nanovest.
Investasi memiliki risiko. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi. Nanovest terdaftar dan diawasi oleh OJK.
Referensi +
- Yahoo Finance: Stock futures fall as oil prices and Treasury yields surge
- Stocktwits: Dow, S&P 500, Nasdaq Futures Fall As Brent Tops $106 After Trump Rejects Iran Proposal: MU, SLV, QNT, META In Focus






