Bursa saham Amerika Serikat melemah pada perdagangan Senin, memulai pekan yang padat data ekonomi dengan sentimen negatif akibat ketegangan AS-Iran yang kembali memanas, mendorong harga minyak naik dan yield obligasi pemerintah AS melonjak.
Tekanan datang dari beberapa arah sekaligus. Harga minyak kembali meningkat setelah Presiden Donald Trump menolak proposal terbaru Iran terkait Selat Hormuz, sementara kenaikan yield Treasury memperbesar tekanan terhadap valuasi saham. Di saat yang sama, investor mulai bersiap menghadapi data inflasi dan tenaga kerja AS yang dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan The Fed.
Tiga Indeks Utama Kompak Melemah
Dow Jones Industrial Average turun 0,7% ke level 51.481,51, melorot 347,11 poin. S&P 500 melemah sekitar 0,8%, sementara Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi turun lebih dalam sebesar 0,9%.
Secara lebih rinci, S&P 500 ditutup turun 0,77% ke 7.683,69, sedangkan Nasdaq Composite kehilangan 0,92% ke 26.820,38. Pelemahan terjadi setelah ketiga indeks utama sebelumnya mencatat kenaikan mingguan, dengan tekanan Senin terutama datang ketika harga energi dan yield Treasury bergerak naik bersamaan.
Kenaikan biaya pendanaan kembali menjadi perhatian pasar karena yield obligasi pemerintah AS telah bergerak ke level yang jarang terlihat dalam hampir dua dekade. Kondisi ini dapat meningkatkan tingkat diskonto yang digunakan investor untuk menilai saham, terutama perusahaan dengan valuasi yang banyak bergantung pada pertumbuhan laba di masa depan.
Yield Obligasi Tembus Level Tertinggi dalam Puluhan Tahun
Yield Treasury tenor 10 tahun naik 6 basis poin ke 5,24%, level tertinggi sejak 2007, sementara yield tenor 30 tahun naik ke 5,56%, mencapai salah satu level tertingginya dalam lebih dari dua dekade. Kenaikan tersebut memperbesar tekanan pada pasar ketika investor kembali mempertimbangkan risiko inflasi dan prospek suku bunga AS.
Salah satu katalisnya datang dari pasar energi. Trump menolak proposal terbaru Teheran yang menawarkan penghentian sementara konflik dan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan sejumlah persyaratan. Namun, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Trump mengatakan kepada Axios bahwa ia memperkirakan pembicaraan dengan Iran akan kembali berlangsung pekan ini.
Ketidakpastian mengenai kesepakatan tersebut membuat harga minyak kembali naik. Brent untuk pengiriman November menembus US$106 per barel, sedangkan WTI bergerak di atas US$94. Selat Hormuz menjadi perhatian karena perannya sebagai salah satu jalur utama pengiriman minyak global.
Bagi Wall Street, pergerakan minyak tidak berhenti pada sektor energi. Harga minyak yang bertahan tinggi dapat menjaga tekanan inflasi, sehingga pasar harus mempertimbangkan kemungkinan kebijakan moneter tetap ketat lebih lama. Kombinasi minyak mahal dan yield Treasury yang tinggi menjadi salah satu faktor yang membebani aset berisiko pada awal pekan.
Nvidia Melawan Tren lewat Buyback dan AI Safety
Di tengah pelemahan pasar secara umum, saham Nvidia (NVDA) justru menguat sekitar 1,7% setelah perusahaan mengumumkan tambahan otorisasi pembelian kembali saham sebesar US$150 miliar. Tambahan tersebut membawa total otorisasi buyback yang tersisa menjadi US$235 miliar, dengan program tersebut direncanakan berjalan hingga tahun fiskal 2028.
Nvidia juga memperkenalkan Open Agent Safety Platform untuk meningkatkan pengawasan terhadap AI agents. Platform tersebut terdiri dari OpenShell, perangkat lunak open-source yang membatasi tindakan dan akses AI agent ketika beroperasi, serta Sentry yang berfungsi sebagai sistem pengawasan tambahan dan dapat mengisolasi agent ketika bergerak di luar batas yang ditetapkan.
Peluncuran tersebut datang ketika keamanan agentic AI semakin menjadi perhatian industri. AI agents memiliki kemampuan untuk menggunakan berbagai tools, mengakses data, memanggil API, hingga menjalankan tindakan secara lebih mandiri, sehingga pengembang mulai membangun mekanisme kontrol langsung pada lapisan infrastruktur.
Kombinasi pengumuman buyback dan platform AI safety membuat Nvidia bergerak berlawanan dengan sebagian saham teknologi pada Senin. Namun, tekanan terhadap sektor AI secara lebih luas belum sepenuhnya hilang karena investor masih mempertimbangkan valuasi, biaya pembangunan infrastruktur, keamanan AI, dan dampak yield tinggi terhadap saham pertumbuhan.
PCE, Jobs Report, dan Earnings Jadi Fokus Berikutnya
Investor kini bersiap menghadapi rentetan data inflasi dan tenaga kerja sepanjang pekan ini. Laporan Personal Consumption Expenditures (PCE) akan dirilis Rabu, disusul laporan ketenagakerjaan bulanan pada Jumat, keduanya berpotensi memberikan sinyal baru soal kesehatan ekonomi AS dan arah kebijakan The Fed selanjutnya.
Data tersebut menjadi semakin relevan setelah lonjakan minyak dan yield Treasury. Jika tekanan inflasi tetap tinggi atau pasar tenaga kerja menunjukkan ketahanan lebih besar dari perkiraan, ekspektasi terhadap jalur suku bunga The Fed dapat kembali berubah. Sebaliknya, pelemahan data ekonomi dapat menggeser perhatian investor ke risiko perlambatan pertumbuhan.
Dari sisi korporasi, Jefferies Financial Group dan Vail Resorts melaporkan hasil kuartalan pada Senin, sementara laporan keuangan Micron dan Nike akan menjadi dua agenda earnings utama berikutnya. Micron khususnya dapat memberikan gambaran terbaru mengenai permintaan memory chip dan belanja infrastruktur AI.
Dengan yield 10 tahun sudah berada di sekitar 5,24%, harga minyak kembali di atas US$100, dan kalender ekonomi yang padat, arah Wall Street dalam beberapa sesi berikutnya akan banyak dipengaruhi interaksi antara inflasi, suku bunga, geopolitik, dan pertumbuhan laba perusahaan.
Yield Naik, Pantau Arah Wall Street
Minyak dan yield Treasury kembali naik saat Wall Street menghadapi pekan padat data ekonomi. Pantau saham AS dan perkembangan pasar melalui Nanovest.
Investasi memiliki risiko. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi. Nanovest terdaftar dan diawasi oleh OJK.
Referensi +
- Yahoo Finance: Stock market today: Dow, S&P 500, Nasdaq fall as Treasury yields continue to climb
- CBS News: Live Updates: Iran says Trump must choose between war or diplomacy as talks resume
- Yahoo Finance: Oil prices jump as hopes for US-Iran deal to reopen Strait of Hormuz fade






