Data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih kuat dari ekspektasi mengubah arah taruhan pasar menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pekan ini.
Trader suku bunga kini menempatkan peluang kenaikan di angka 58,4%, sebuah pembalikan signifikan dari ekspektasi sebelumnya yang lebih condong pada skenario suku bunga ditahan.
Data Tenaga Kerja Dorong Peluang Rate Hike ke 58%
Menurut alat pelacak CME FedWatch, hampir 60% investor kini bertaruh pada kenaikan 25 basis poin menjadi kisaran 3,75% hingga 4%, sementara sisanya masih memperkirakan bank sentral yang dipimpin Kevin Warsh akan menahan suku bunga.
Sentimen ini dipicu oleh laporan Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) yang dirilis Jumat lalu, menunjukkan ekonomi AS menambah 162.000 lapangan kerja baru sepanjang Agustus, sementara tingkat pengangguran tetap stabil di 4,1%.
Sayangnya, sisi lain dari mandat ganda The Fed belum menunjukkan perbaikan. Laporan inflasi terbaru dari BLS yang dirilis pertengahan Agustus mencatat indeks harga tahunan berada di 3,4%, masih jauh melampaui target 2% yang ditetapkan FOMC.
Laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) berikutnya baru akan dirilis Jumat pekan ini, namun dengan tekanan sisi pasokan yang belum reda, mulai dari konflik Timur Tengah hingga tarif dagang, para analis memperkirakan data tersebut justru akan makin memperkuat alasan untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan FOMC yang berakhir 16 September.
Bank-Bank Besar Kompak Perkirakan Kenaikan
David Doyle dari Macquarie menyebut pihaknya kini menjadikan September sebagai skenario dasar untuk kenaikan pertama sebesar 25 basis poin, mundur dari perkiraan sebelumnya di Desember, dengan kenaikan kedua diperkirakan menyusul pada kuartal pertama 2027.
Bank of America (BAC) turut memperkirakan kenaikan suku bunga pekan depan. Tim makro AS bank tersebut menyoroti bahwa jika inflasi inti PCE Agustus tercatat 0,24% secara bulanan atau lebih tinggi, peluang kenaikan suku bunga bisa melampaui 50% menjelang pertemuan September, dan keputusan untuk tidak menaikkan suku bunga dalam skenario tersebut berisiko memunculkan pertanyaan soal kredibilitas The Fed.
Kenaikan imbal hasil obligasi, seperti yang terjadi usai pertemuan FOMC Juli lalu, berpotensi menggagalkan upaya yang selama ini dilakukan Menteri Keuangan Scott Bessent lewat program pembelian kembali surat utang negara.
UBS memperkirakan dua kali kenaikan suku bunga tahun ini, pada September dan Desember. Namun Chief Investment Officer UBS, Mark Haefele, menekankan bahwa konteks di balik kenaikan suku bunga jauh lebih penting dibanding keputusan itu sendiri, sebab respons The Fed terhadap kekuatan ekonomi berbeda maknanya dibanding respons terhadap masalah inflasi bagi para investor.
Gedung Putih Mulai Turun Tangan
Kubu Trump hingga kini belum berhasil mendapatkan pemangkasan suku bunga yang sebelumnya juga terus didorong ke mantan Ketua The Fed, Jerome Powell.
Presiden Trump telah menempuh berbagai cara untuk mendorong penurunan suku bunga. Kampanye pemerintahannya untuk narasi kebijakan yang lebih longgar memang sudah bisa diprediksi, meski hal ini berpotensi menyulitkan posisi Warsh, sosok yang justru dipilih sendiri oleh Trump untuk memimpin The Fed. Lewat platform miliknya, Truth Social, Trump menyerukan agar suku bunga diturunkan karena menilai kondisi kredit AS kini jauh lebih kuat dibanding sebelumnya.
Trump turut melontarkan ancaman baru: jika suku bunga tidak turun, ia mengancam menghentikan perdagangan AS dengan negara-negara yang memiliki defisit dagang dengan Washington. Ia juga meminta jajaran The Fed untuk “bersikap lebih patriotik” dan menyebut suku bunga tinggi menempatkan AS pada posisi yang sangat tidak menguntungkan.
Wakil Presiden JD Vance menyuarakan sentimen serupa, menyebut dorongan Trump untuk menurunkan suku bunga bertujuan membantu warga Amerika lebih mudah membeli rumah. Vance menyampaikan pemerintah tengah berupaya menekan suku bunga tetap rendah, namun akan lebih membantu jika The Fed turut memberikan dukungan serupa.
Dengan pasar kini condong ke arah kenaikan suku bunga sementara tekanan politik dari Gedung Putih menuju arah sebaliknya, pertemuan FOMC pekan ini berpotensi menjadi ujian penting bagi independensi Warsh sebagai Ketua The Fed yang baru.
Pantau Arah The Fed dan Wall Street
Pantau saham AS dan berbagai peluang investasi melalui Nanovest. Ikuti juga perkembangan inflasi, suku bunga The Fed, yield Treasury, dan sentimen Wall Street lewat News & Artikel Tips Nanovest.
Investasi memiliki risiko. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi. Nanovest terdaftar dan diawasi oleh OJK.
Referensi +
- Fortune: As Wall Street shifts expectations towards a Fed rate hike, the White House turns up the pressure on Warsh’s central bank






