Bitcoin (BTC) baru saja menyelesaikan bulan terbaiknya sepanjang 2026.
Harga BTC melonjak sekitar 24% sepanjang Agustus, bergerak dari area US$60.000-an hingga sempat menembus US$80.000. Reli tersebut mengembalikan optimisme ke pasar kripto setelah Bitcoin sebelumnya bergerak relatif terbatas.
Namun, memasuki September, fokus investor mulai bergeser. Bukan lagi sekadar seberapa cepat Bitcoin bisa naik, melainkan seberapa kuat permintaan yang menopang kenaikan tersebut.
Sejumlah indikator mulai memberikan gambaran yang lebih beragam. Cadangan BTC di Binance meningkat, arus masuk ke spot Bitcoin ETF AS melambat, sementara sebagian reli akhir Agustus dinilai lebih banyak mendapat dorongan dari pasar derivatif daripada pembelian spot.
Dengan US$80.000 kini menjadi area penting, September dapat menjadi ujian apakah reli Agustus memiliki cukup tenaga untuk berlanjut.
Cadangan Bitcoin di Binance Meningkat
Salah satu indikator yang mulai mendapat perhatian adalah jumlah Bitcoin yang berada di exchange. Cadangan Bitcoin di Binance kini berada di sekitar 687.000 BTC, menjadi level tertinggi sepanjang 2026.
Secara umum, kenaikan saldo BTC di exchange berarti semakin banyak Bitcoin yang tersedia untuk diperdagangkan, digunakan sebagai jaminan, maupun dijual. Hal ini berbeda dengan kondisi ketika investor memindahkan BTC keluar dari exchange menuju wallet pribadi untuk disimpan dalam jangka lebih panjang.
Namun, meningkatnya cadangan exchange tidak otomatis berarti aksi jual akan terjadi.
Kenaikan jumlah Bitcoin di exchange biasanya berarti semakin banyak aset yang tersedia untuk dijual, digunakan untuk hedging, atau dijadikan jaminan.
Meski peningkatan cadangan tidak otomatis berarti investor akan melakukan aksi jual, jumlah BTC yang lebih besar di exchange dapat meningkatkan potensi tekanan jual, terutama ketika harga berada di sekitar level US$80.000.
Arus Dana ETF Bitcoin Mulai Melemah
Sinyal berikutnya datang dari salah satu sumber permintaan Bitcoin yang paling diperhatikan pasar: spot Bitcoin ETF AS.
Pada 28 Agustus, produk tersebut mencatat outflow bersih sekitar US$201,8 juta, sekaligus mengakhiri sembilan hari berturut-turut arus dana positif.
Secara mingguan, aliran dana masih berada di zona positif. Namun, jumlahnya turun cukup tajam.
Spot Bitcoin ETF menerima sekitar US$924,5 juta sepanjang pekan, turun 51,8% dibandingkan US$1,92 miliar pada minggu sebelumnya.
Menariknya, pelemahan tersebut tidak terjadi merata di seluruh produk investasi kripto. Spot Ethereum ETF masih menerima sekitar US$102,18 juta, sedangkan produk XRP dan Solana masing-masing mencatat inflow sekitar US$26,2 juta dan US$18,08 juta.
Perbedaan ini dapat menunjukkan bahwa sebagian modal mulai tersebar ke aset kripto lain setelah reli besar Bitcoin.
Belum tentu satu hari outflow menandakan permintaan institusional terhadap BTC telah berbalik arah. Namun, setelah ETF menjadi salah satu pendorong reli sebelumnya, keberlanjutan arus dana akan menjadi indikator penting untuk menentukan apakah Bitcoin mampu mempertahankan level barunya.
Reli Bitcoin Masih Perlu Dukungan Pasar Spot
Hal lain yang menjadi perhatian adalah dari mana kenaikan Bitcoin sebenarnya berasal.
Pada bagian akhir reli Agustus, aktivitas pembelian di pasar spot disebut relatif datar meskipun harga BTC terus meningkat. Kondisi tersebut menimbulkan dugaan bahwa sebagian momentum berasal dari leverage dan aktivitas pasar derivatif.
Sebelumnya, kenaikan Bitcoin memang memicu gelombang short covering. Ketika harga bergerak naik dengan cepat, trader yang bertaruh pada penurunan BTC dipaksa menutup posisi mereka. Pembelian untuk menutup posisi short tersebut kemudian dapat mendorong harga semakin tinggi dan menciptakan short squeeze.
Mekanisme seperti ini dapat mempercepat reli, tetapi berbeda dengan kenaikan yang secara konsisten ditopang oleh pembelian aset Bitcoin secara langsung di pasar spot.
Meski begitu, kondisi ini tidak otomatis membuat outlook BTC menjadi bearish.
GSR menilai penembusan US$80.000 berpotensi menandai perubahan rezim pasar yang didukung kombinasi permintaan ETF dan short covering. Karena itu, yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah apakah permintaan spot mulai mengejar kenaikan harga setelah efek likuidasi mereda.
Jika iya, reli Bitcoin berpotensi mendapatkan fondasi yang lebih kuat. Jika tidak, BTC dapat menjadi lebih sensitif terhadap aksi ambil untung dan perubahan posisi leverage.
September Jadi Ujian Level US$80.000
Kalender historis memberikan satu lapisan risiko tambahan. Sejak 2013, Bitcoin rata-rata mencatat penurunan sekitar 3,08% pada September, menjadikannya bulan dengan rata-rata performa terlemah bagi BTC.
Namun, pola tersebut belakangan mulai berubah. Tiga September terakhir tercatat berakhir positif, termasuk kenaikan 7,29% pada September 2024 dan 5,16% pada September 2025. Artinya, reputasi September sebagai bulan yang buruk untuk Bitcoin tidak bisa digunakan sebagai prediksi tunggal untuk pergerakan tahun ini.
Setelah kenaikan 24% sepanjang Agustus, fokus pasar kemungkinan akan lebih tertuju pada US$80.000 sebagai level psikologis, sekaligus keseimbangan antara permintaan dan pasokan.
Jika arus ETF kembali menguat dan pembelian spot mampu menyerap BTC yang masuk ke exchange, Bitcoin memiliki peluang mempertahankan momentum Agustus.
Sebaliknya, kombinasi outflow ETF, meningkatnya cadangan exchange, dan melemahnya aktivitas spot dapat membuat reli lebih rentan terhadap koreksi.
Agustus sudah membuktikan bahwa Bitcoin masih mampu menghasilkan reli besar. September kini akan menguji apakah US$80.000 hanya menjadi tujuan reli tersebut, atau justru pijakan untuk pergerakan berikutnya.
Pantau Langkah Bitcoin Berikutnya
BTC baru saja mencetak rally terbesarnya sepanjang 2026. Pantau pergerakan Bitcoin di Nanovest dan ikuti perkembangan ETF, sentimen, serta pasar kripto terbaru.
Referensi +
- BeInCrypto: Bitcoin Enters September with 3 Warning Signs After 24% August Rally






