Harga emas melesat lebih dari 10% sepanjang Agustus, menjadikannya kenaikan bulanan terkuat sejak Januari. Pelemahan dolar AS dan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Amerika kembali meningkatkan minat terhadap logam mulia sebagai aset pelindung nilai.
Namun, reli tersebut turut mengerek volatilitas dan biaya sejumlah opsi emas. Alih-alih meninggalkan posisi bullish, sebagian trader justru mengubah cara mereka mengambil eksposur.
Strategi seperti call spread hingga kontrak eksotis yang menggabungkan emas dengan mata uang dan komoditas lain mulai digunakan untuk menekan biaya. Dengan kata lain, pasar masih melihat peluang kenaikan emas, tetapi semakin selektif dalam menentukan berapa mahal harga yang layak dibayar untuk mengejarnya.
Dolar Melemah, Emas Jadi Primadona
Salah satu katalis utama reli emas datang dari pasar obligasi dan kebijakan fiskal Amerika Serikat.
Menteri Keuangan Scott Bessent berencana menggandakan pembelian surat utang bertenor 10 hingga 30 tahun. Langkah ini menghidupkan kembali kekhawatiran lama soal pelemahan nilai mata uang dolar, dan investor pun kembali memburu aset-aset “keras” seperti emas sebagai pelindung nilai.
Bagi emas, kombinasi tersebut menjadi sentimen yang mendukung.
Logam mulia tidak memberikan bunga atau yield. Karena itu, ketika dolar melemah atau kepercayaan terhadap aset berbasis mata uang fiat menghadapi tekanan, daya tarik emas sebagai penyimpan nilai dapat meningkat.
Para trader kini lebih memilih strategi call spread pada ETF SPDR Gold Shares, yakni menekan biaya di muka dengan menjual opsi pada harga strike lebih tinggi, meski konsekuensinya membatasi potensi untung maksimal. Volatilitas opsi emas memang meningkat selama reli ini, namun masih berada di bawah level kuartal pertama tahun ini. Kondisi tersebut menandakan pasar memperkirakan kenaikan berikutnya akan lebih terkendali, berada di kisaran $4.900 hingga $5.300.
Emas Naik, Trader Cari Opsi yang Lebih Murah
Ketika ekspektasi kenaikan harga meningkat, membeli call option biasa bukan selalu pilihan paling efisien. Premi yang harus dibayar dapat menjadi lebih mahal, sementara trader tetap menghadapi risiko kehilangan premi apabila skenario kenaikan tidak terealisasi.
Salah satu strategi yang mulai banyak digunakan adalah call spread pada SPDR Gold Shares (GLD).
Sederhananya, trader membeli call option pada satu harga strike, kemudian menjual call option lain dengan harga strike lebih tinggi. Premi dari opsi yang dijual membantu mengurangi biaya posisi awal.
Konsekuensinya, potensi keuntungan maksimal ikut dibatasi. Namun, bagi trader yang memperkirakan emas masih naik tetapi tidak melonjak tanpa batas, struktur tersebut dapat menawarkan kompromi antara biaya dan potensi keuntungan.
Trader institusional turut memanfaatkan kontrak eksotis yang menggabungkan beberapa aset sekaligus, memadukan emas dengan pasangan mata uang seperti dolar-yen atau dolar-franc Swiss. Bahkan ada yang menggabungkan emas, minyak, dan valuta asing dalam satu kontrak.
Dengan mensyaratkan beberapa kondisi pasar terpenuhi secara bersamaan, biaya kontrak dapat ditekan sementara potensi imbal hasilnya berpeluang melesat 10 hingga 20 kali lipat dari modal awal.
Instrumen sekompleks ini tentu membawa risiko tersendiri. Nilainya tidak hanya bergantung pada pergerakan harga emas, tetapi juga pada korelasi antar mata uang dan komoditas lain. Akibatnya, prediksi yang tepat soal emas tetap dapat berujung kerugian apabila bagian lain dari kontrak bergerak di luar perkiraan.
Pergeseran tersebut memberikan gambaran menarik mengenai sentimen pasar: bullish terhadap emas belum hilang, tetapi trader mulai lebih berhati-hati terhadap biaya untuk mempertahankan posisi tersebut.
Bitcoin Ikut Terbang, tapi Ceritanya Beda
Bitcoin turut menikmati pelemahan dolar, sempat menembus $80.000. Tapi lonjakan ini banyak didorong oleh short squeeze, lebih dari $2,5 miliar posisi bearish di pasar futures terlikuidasi paksa dalam waktu singkat, sementara dana Bitcoin spot di AS kebanjiran dana masuk lebih dari $2 miliar.
Pertanyaannya sekarang: apakah investor mulai melihat Bitcoin sebagai pelindung nilai jangka panjang, atau kenaikan ini cuma euforia sesaat yang dipicu leverage?
Ketua The Fed Kevin Warsh sempat meredam euforia di akhir pekan dengan menegaskan komitmen bank sentral memerangi inflasi, yang justru mendongkrak ekspektasi suku bunga lebih tinggi.
Meski begitu, minat terhadap emas tetap tinggi karena logam ini bisa diuntungkan dari berbagai skenario. Entah dolar melemah, kekhawatiran fiskal, inflasi, atau gejolak pasar keuangan.
Pantau Peluang di Tengah Pergerakan Pasar
Dari emas hingga Bitcoin, perubahan sentimen global bisa membuka peluang sekaligus risiko. Pantau aset pilihanmu di Nanovest dan ikuti perkembangan pasar terbaru lewat News dan Artikel Tips Nanovest.
Referensi +
- Big Go Finance: Gold Surges Over 10% in August as Bulls Shift to Exotic Options to Cut Costs
- Seeking Alpha: Gold bulls turn to lower-cost options as dollar weakens






