Harga minyak kembali menjadi salah satu sumber tekanan terbesar bagi pasar global.
Harapan bahwa Amerika Serikat dan Iran segera mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz mulai memudar. Di saat yang sama, kemampuan Washington untuk terus menahan lonjakan harga dengan mengandalkan Cadangan Minyak Strategis atau Strategic Petroleum Reserve (SPR) juga semakin terbatas.
Data Departemen Energi AS menunjukkan persediaan SPR turun menjadi sekitar 298,7 juta barel pada Agustus, level terendah sejak 1983. Kondisi tersebut muncul setelah pemerintah sebelumnya melepaskan 172 juta barel minyak sejak Maret untuk membantu menstabilkan pasar akibat konflik di Timur Tengah.
Kombinasi ketidakpastian pasokan dan cadangan domestik yang menipis membawa minyak WTI kembali ke atas US$83 per barel, sementara Brent mendekati US$89.
Bagi pasar, persoalannya kini lebih luas daripada harga energi. Minyak yang bertahan tinggi dapat kembali mendorong inflasi tepat ketika Federal Reserve masih memperdebatkan apakah suku bunga perlu dinaikkan lagi.
Kesepakatan Hormuz Kembali Menjauh
Harga minyak melonjak setelah sinyal mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz kembali memburuk.
Seorang pejabat keamanan senior Iran dilaporkan meminta AS mencairkan dana Iran yang disimpan di luar negeri sebagai salah satu syarat pembukaan jalur tersebut. Presiden Donald Trump pada saat yang sama meningkatkan tuntutan terhadap Teheran, termasuk terkait kompensasi kepada AS. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa negosiasi belum menghasilkan titik temu yang jelas.
Meski Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif mengatakan situasi kembali mengarah pada kemungkinan kesepakatan atau pengaturan perdamaian, aktivitas pengiriman melalui Hormuz masih sangat rendah.
Data Kpler menunjukkan hanya delapan kapal melintasi selat tersebut pada Senin. Sebelum serangan AS dan Israel pada 28 Februari, lebih dari 130 kapal biasa melewati jalur itu.
Dari sisi aliran minyak, ekspor melalui Hormuz disebut mencapai rata-rata tujuh hari sekitar 9 juta barel per hari, sedangkan total arus minyak dari wilayah Teluk berada di sekitar 15 juta barel per hari jika pengiriman melalui pipa ikut diperhitungkan.
Jumlah tersebut tetap menunjukkan bahwa kapasitas ekspor kawasan belum sepenuhnya kembali normal.
Reaksi harga cukup cepat. WTI ditutup di sekitar US$83,20 per barel pada Selasa, sementara Brent naik menjadi sekitar US$88,91. Keduanya telah menguat lebih dari 6% sepanjang pekan. Selama akses Hormuz belum pulih secara konsisten, pasar minyak kemungkinan tetap menempatkan premi risiko pada harga.
Cadangan Minyak AS Turun ke Level Terendah Sejak 1983
Di tengah gangguan tersebut, Amerika Serikat memiliki ruang yang semakin kecil untuk menggunakan cadangan strategisnya sebagai bantalan.
SPR turun 6,1 juta barel pada Agustus menjadi sekitar 298,7 juta barel. Ini merupakan posisi terendah dalam lebih dari empat dekade.
Pemerintahan Trump sebelumnya memerintahkan pelepasan sekitar 172 juta barel pada Maret untuk membantu menahan lonjakan harga minyak yang dipicu perang di Timur Tengah.
Cadangan strategis memang dirancang untuk situasi gangguan pasokan besar. Namun semakin banyak minyak yang dilepas, semakin terbatas pula fleksibilitas pemerintah jika konflik kembali memburuk atau gangguan pengiriman berlangsung lebih lama.
Tekanan terhadap logistik energi juga mendorong Washington memperpanjang penangguhan sebagian aturan Jones Act, yang biasanya membatasi pengangkutan barang antar pelabuhan AS hanya menggunakan kapal berbendera Amerika. Langkah tersebut ditujukan untuk memberi fleksibilitas tambahan bagi distribusi sumber daya energi.
Tetapi persoalan utama tetap sama: selama volume pengiriman dari Teluk belum pulih, pasar masih membutuhkan pasokan alternatif. Karena itu, penurunan SPR membuat pergerakan harga minyak kini semakin bergantung pada perkembangan geopolitik dan pemulihan arus perdagangan, bukan sekadar intervensi cadangan pemerintah.
Minyak Tinggi Kembali Jadi Masalah untuk Inflasi dan The Fed
Lonjakan minyak terjadi pada waktu yang sensitif. Investor menantikan data Consumer Price Index (CPI) Juli yang diperkirakan menunjukkan inflasi tahunan melambat tipis menjadi sekitar 3,4% dari 3,5% pada Juni. Secara bulanan, harga diperkirakan naik sekitar 0,1% setelah turun 0,4% pada bulan sebelumnya.
Masalahnya, tekanan energi kembali meningkat setelah periode yang sempat lebih tenang. Jika minyak bertahan tinggi atau kembali naik, dampaknya berpotensi muncul tidak hanya pada bensin, tetapi juga biaya transportasi, logistik, produksi, dan akhirnya harga berbagai barang dan jasa.
Hal ini memperumit posisi Federal Reserve. Laporan tenaga kerja Juli yang lemah sebelumnya mengurangi urgensi kenaikan suku bunga. Namun beberapa pejabat Fed masih menilai inflasi terlalu tinggi.
Presiden Cleveland Fed Beth Hammack bahkan mengatakan mungkin dibutuhkan lebih dari satu kenaikan suku bunga untuk membawa inflasi kembali terkendali.
CPI kali ini menjadi lebih penting daripada sekadar satu angka ekonomi. Inflasi yang lebih rendah dari perkiraan dapat mengurangi kekhawatiran kenaikan suku bunga dan memberi ruang bagi aset berisiko. Sebaliknya, data yang lebih panas dapat memperkuat alasan bagi The Fed untuk kembali memperketat kebijakan, terutama jika harga minyak tetap tinggi.
Wall Street sudah mulai mencerminkan kewaspadaan tersebut. Pada perdagangan Selasa, Dow Jones turun sekitar 0,34%, S&P 500 melemah 0,32%, dan Nasdaq Composite terkoreksi sekitar 0,60%. Saham-saham teknologi besar seperti Alphabet, Apple, dan Amazon ikut tertekan.
Pasar kini menghadapi kombinasi yang kurang nyaman: ketidakpastian pasokan energi, cadangan strategis yang semakin tipis, serta data inflasi yang dapat mengubah ekspektasi suku bunga.
Selama pembukaan penuh Selat Hormuz belum tercapai, minyak kemungkinan tetap menjadi variabel penting yang menghubungkan geopolitik dengan inflasi, kebijakan The Fed, dan arah pasar saham.
Pantau Dampak Harga Minyak ke Pasar Global
Pergerakan minyak, inflasi, dan kebijakan The Fed dapat memengaruhi saham hingga aset kripto. Pantau peluang investasi melalui Nanovest dan ikuti perkembangan pasar terbaru lewat News serta Artikel Tips Nanovest.
Referensi +
- Yahoo Finance: Oil jumps as US-Iran deal hopes fade, Strategic Petroleum Reserve falls below 300 million barrels
- CNBC: U.S. oil rises above $83 a barrel as Iran says Strait of Hormuz won’t open until conditions are met






