• nanovest

Stablecoin: Apa Arti dan Bedanya dengan Koin Kripto Biasa?

Salah satu karakteristik cryptocurrency atau mata uang kripto adalah volatilitas yang tinggi. Artinya, mata uang ini punya kecenderungan mengalami perubahan nilai secara signifikan dalam waktu yang singkat.



Sisi positifnya adalah adanya kemungkinan memperoleh untung melimpah ketika berpapasan dengan waktu yang tepat. Di sisi lain, volatilitas bisa membuat kamu mengalami kerugian yang tidak terkira.


Untuk itulah, stablecoin hadir dalam pasar mata uang kripto. Apa, sih, arti stablecoin ini? Apa juga bedanya koin ini dengan koin kripto biasa? Yuk, simak ulasan lengkapnya dalam artikel ini!


Apa Arti Stablecoin?

Dilansir dari Forbes, stablecoin adalah jenis cryptocurrency yang dirancang untuk mampu mempertahankan harga secara stabil dari waktu ke waktu. Definisi ini tentu tidak sejalan dengan karakteristik utama mata uang kripto yang telah disebutkan di atas. Akan tetapi, stablecoin bisa tidak berubah-ubah atau stabil lantaran ia “diikat” atau dikaitkan dengan harga aset lain.


Menurut para ahli, mata uang kripto satu ini bertujuan untuk menawarkan semua manfaat kripto sembari menekan tingkat volatilitasnya yang tinggi. Salah satu manfaatnya, seperti kata CEO Modulus Global dalam laman Forbes, adalah kesempatan untuk menyimpan nilai tabungan atau harta investor ke dalam aset yang dikaitkan pada nilai mata uang yang lebih stabil.


Manfaat mata uang kripto lainnya yang juga diberikan stablecoin adalah transfer instan dan biaya administrasi rendah. Selain itu, stablecoin juga bermanfaat sebagai media pertukaran aset yang menjembatani kesenjangan antara mata uang fiat dan kripto.


Jenis-jenis Stablecoin

Agar bisa tetap konstan atau stabil, stablecoin memanfaatkan mekanisme kerja aset-aset yang ia “ikati”. Beberapa contoh aset tersebut meliputi mata uang fiat seperti dolar AS, komoditas fisik seperti emas, algoritma, hingga mata uang kripto lainnya.


1. Fiat-backed stablecoin

Fiat-backed stablecoin adalah mata uang kripto yang “diikat” atau dijamin oleh mata uang fiat seperti dolar AS. Artinya, setiap token stablecoin yang beredar memiliki cadangan 1 dolar AS; baik dalam bentuk tunai atau setara tunai.


Nah, menurut laman Cointelegraph, cadangan stablecoin jenis ini akan dikelola oleh entitas pusat yang mengaudit dana secara rutin sekaligus bekerja sama dengan regulator untuk memastikan bahwa entitas yang memegang cadangan stablecoin tetap patuh.


Jadi, kalau kamu mau beli stablecoin jenis ini langsung dari penerbitnya, kamu harus melalui pemeriksaan Know Your Customer (KYC) dan Anti-Money Laundering (AML) atau setingkatnya yang ada di pasar.


2. Commodity-backed stablecoin

Arti stablecoin satu ini adalah mata uang kripto yang dijamin oleh komoditas berbasis blockchain dan didukung oleh cadangan koin kripto yang dipegang oleh entitas pusat.


Adapun contoh komoditas yang digunakan pada jenis stablecoin satu ini adalah logam mulia seperti emas, minyak, ataupun real estate (lahan atau tanah). Jadi, satu token stablecoin ini punya nilai yang setara dengan satu komoditas barang yang menjaminnya.


3. Algorithmic stablecoin

Alih-alih dijamin oleh instrumen aset seperti dua contoh sebelumnya, jenis stablecoin satu ini justru mengandalkan algoritma kompleks untuk menjaga kestabilan harganya dari waktu ke waktu.


Kontrak pintar berbasis teknologi ini bisa menyeimbangkan dana yang disimpan dalam blockchain melalui kontrol pada tingkat permintaan dan penawaran di pasar. Menurut Cointelegraph, algorithmic stablecoin ini berlaku sebagai bank sentral nyata, yang mempertahankan tingkat nilai mata uang di pasar.


4. Cryptocurrency-backed stablecoin

Jenis terakhir adalah cryptocurrency-backed stablecoin yang memanfaatkan mata uang kripto lain sebagai penjaminnya. Stablecoin satu ini umumnya dikeluarkan untuk melacak harga uang kripto yang mendukungnya ataupun harga mata uang fiat.


Contoh yang pertama adalah Wrapped Bitcoin (WBTC), stablecoin yang dijamin oleh Bitcoin namun diterbitkan dalam blockchain Ethereum. Contoh yang kedua adalah mekanisme penyeimbang pada blockchain untuk melacak mata uang fiat. Jenis stablecoin ini biasanya memiliki jaminan yang lebih besar daripada nilai token yang sesungguhnya, dengan tujuan untuk mempertahankan tingkat nilai mata uang di pasar.


Itulah dia ulasan mengenai arti stablecoin serta jenis-jenisnya. Berdasarkan penjelasan di atas, perbedaan stablecoin dengan koin-koin kripto lainnya terdapat pada mekanisme kerja di pasar.


Jika koin kripto pada umumnya bergerak berdasarkan permintaan, penawaran, serta faktor-faktor lainnya, maka stablecoin akan bergerak mengikuti aset yang “mengikatnya” atau menjaminnya.


Kalau kamu tertarik untuk memiliki koin kripto ini, kamu bisa membeli Tether (USDT), USD Coin (USDC), Dai (DAI), Binance USD (BUSD), Pax Dollar (USDP), atau sejumlah stablecoin lain yang sudah tersedia di pasar saham. Namun jika kamu ingin membeli token Bitcoin, Ethereum, Binance, dan ratusan koin kripto lainnya, kamu bisa coba pakai Nanovest.


Cukup download aplikasinya di Play Store atau App Store. Setelah itu, registrasikan diri kamu lalu lakukan top up saldo agar kamu bisa segera bertransaksi di pasar global. Yuk, tunggu apa lagi?

26 views0 comments