• nanovest

Apa yang Dimaksud Resesi? Kenapa Bisa Terjadi?

Resesi ekonomi diprediksi terjadi tahun 2023 mendatang. Hal ini dipicu karena tren kenaikan suku bunga acuan dari beberapa bank sentral dunia.



Menurut Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, yang dikutip dari money.kompas.com, resesi ekonomi dunia mengacu pada World Bank yang menilai kebijakan dari pengetatan moneter bank sentral berimplikasi pada krisis pelemahan ekonomi dan pasar uang.


Lalu, apa yang dimaksud dengan resesi dan kenapa bisa terjadi?


Pengertian Resesi

Secara sederhana, resesi bisa diartikan sebagai kondisi perekonomian yang sedang memburuk di suatu negara.


Hal ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi riil yang bernilai negatif (selama dua kuartal berturut-turut), meningkatnya pengangguran, dan menurunnya PDB (Produk Domestik Bruto). (source: sikapiuangmu.ojk.go.id)


Di saat terjadi resesi, maka pertumbuhan ekonomi di suatu negara bisa sampai 0% bahkan dalam kondisi terburuk bisa sampai minus. Parahnya lagi, kondisi tersebut bisa mengakibatkan beberapa dampak, seperti:


1. Ekonomi melambat


Melambatnya perekonomian suatu negara sehingga menyebabkan terjadi PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) besar-besaran. Bahkan, beberapa perusahaan berhenti beroperasi.


2. Daya beli melemah


Melemahnya daya beli masyarakat karena lebih mengutamakan memenuhi kebutuhan sehari-hari terlebih dahulu baru kemudian untuk hal lain. Masyarakat pun menjadi lebih selektif menggunakan uangnya.


3. Investasi menurun

Menurunnya nilai investasi sehingga banyak investor menempatkan dananya pada instrumen investasi yang dianggap lebih aman, misalnya investasi saham.


Penyebab Resesi

Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi terjadinya resesi di suatu negara, di antaranya:


1. Inflasi


Sebagaimana dikutip dari laman KBBI, inflasi merupakan naiknya harga barang dan jasa secara terus menerus dalam periode waktu tertentu. Sebenarnya, inflasi bukanlah sesuatu yang buruk, namun apabila terjadi secara berlebihan maka bisa membahayakan dan memicu resesi.


2. Deflasi


Bukan hanya inflasi, deflasi pun dapat menyebabkan resesi. Di mana, deflasi bisa diartikan menurunnya harga barang dan jasa secara terus-terusan sehingga mengakibatkan menyusutnya upah dan menekan harga. Pemilik usaha biasanya paling terkena dampak deflasi.


3. Guncangan ekonomi


Guncangan ekonomi yang secara mendadak pada suatu negara ternyata bisa memicu terjadinya resesi ekonomi. Yang mana, kondisi ini umumnya disebabkan karena tumpukan utang, entah itu individu maupun perusahaan. Dengan semakin banyaknya utang, maka biaya untuk melunasinya akan semakin tinggi.


4. Teknologi


Kehadiran teknologi memang memudahkan aktivitas masyarakat. Namun, seiring perkembangannya, teknologi malah dapat memicu terjadinya resesi di suatu negara.


Lantaran, teknologi seperti robot maupun AI (Artificial Intelligence) bisa menggantikan pekerjaan manusia sehingga dikhawatirkan kedua teknologi ini bisa membuat pekerja kehilangan mata pencaharian. Yang mana bisa berakhir pada resesi.


Selain beberapa faktor di atas, masih banyak faktor lainnya yang juga dapat memicu resesi, misalnya:


  • Panic selling sehingga membuat banyak investor menjual saham miliknya dan menimbulkan gelembung aset.

  • Tidak seimbangnya antara produksi dan konsumsi sehingga berdampak pada menurunnya laba yang didapat sebuah perusahaan.

  • Mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi selama dua kuartal berturut-turut yang mana dapat meningkatkan resesi.

  • Nilai impor yang jauh lebih besar dibanding ekspor sehingga mengakibatkan anggaran negara menjadi defisit.


Demikian penjelasan mengenai resesi dan beberapa penyebab yang membuat suatu negara bisa terkena dampak resesi. Sekalipun terjadi resesi, kamu tetap bisa kok mengoptimalkan keuangan dan mengatur investasi di tengah resesi asalkan tahu caranya.


Salah satunya yaitu investasi saham di aplikasi Nanovest yang bisa kamu unduh lewat Play Store dan App Store. Nanovest merupakan marketplace terpercaya di Indonesia yang aman digunakan untuk berbagai transaksi karena telah terdaftar di BAPPEBTI (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi) dan FINRA (Financial Industry Regulatory Authority).

11 views0 comments